Kalau Pas
Borongan, Satu Pohon Ada 50 Buah
Memanjat kelapa
apalagi hingga ketinggian 7-10 meter, perlu memiliki keahlian khusus. Biasanya
ini di lakukan oleh kaum adam. Namun, Di Dusun Watukebo, Desa Andongsari,
Ambulu ada sekeluarga yang 23 tahun memiliki profesi menjadi pemanjat pohon
kelapa ini.
RANGGA MAHARDIKA-JUMAI, Jember.
SEORANG
perempuan tampak berdiam sebentar berdoa didepan pohon kelapa dengan
ketinggian 5 meteran itu. Kemudian tampa
ragu, dia menapak satu demi satu pijakan kaki di pohon kelapa itu.
Sama sekali tidak terlihat rasa takut diwajahnya
hingga sampai puncak, dan memanen beberapa kelapa di pohon tersebut. Begitu
juga ketika turun, dirinya juga terlihat santai tampa ada rasa ragu.
Dialah Mimin, 43, waga Dusun Watukebo,
Desa Andomgsari, Ambulu yang dikenal tetangganya sebagai pemanjat pohon kelapa
di Ambulu.
“Saya sudah mulai memanjat pohon kelapa
sejak tahun 1998. Jadi sudah 23 tahun. Sudah bisa,” ucap Mimin kemarin. Dirinya
mengatak pengalamannya awal ikut memanjat pohon kelapa ini karena membantu
ekonomi keluarganya yang saat itu sedang sulit.
Keahilan perempuan ini menjadi pemanjat
kelapa karena diajari Purwanto,49, suaminya yang kebetulan lebih dahulu menjadi
pemanjat kelapa.
Ternyata, awal memanjat pohon kelapa yang
dilakukan Mimin berjalan mulus dan tidak ada masalah. Bahkan dirinya merasa
senangdan mudah saja memanjat dilakukan penuh keyakinan. “Awalnya yang
pendek-pendek dulu pohonnya,” tuturnya.
Akhirnya lama-kelamaan pun mulai terbiasa
untuk memanjat pohon yang tinggi. Bahkan, biasa dulu memanjat di ketinggian
sampai 7-10 meter. Apalagi, saat musim panas dirinya bisa memanjat mulai pagi
hingga sore hari jika ada banyak pesanan kepada keluarganya. “ Kalau pas ada
borongan, satu pohon sampai 50 buah,” jelas ibu dari Krisna Ferdian dan Bagus
sumaji ini.
Apalagi, keluarga ini sudah mulai banyak
pelanggan di wilayah Ambulu dan sekitarnya. Bahkan juga beberapa daerah di Tempurejo
juga sering meminta jasanya . “Kalau dulu harus memanggil kerumah , sekarang
sudah cukup pakai SMS,” ucap Mimin tersenyum. Sehingga memang keluarga ini
cukup dikenal sebagai pemanjat kelapa di Ambulu dan sekitarnya.
Namun menapaki usia dan anak-anak yang
sudah dewasa, kelincahan dan tenaga Mimin sudah tidak seperti dulu. “Paling
hanya memanjat 4-5 pohon sekarang,” tuturnya. Apalagi, kini dirinya selalu
mendapatkan kawalan dari sang sulung Krisna Ferdian yang sering melarang dan
tidak tega ibunya masih memanjat pohon terutama yang tinggi dan beresiko
tinggi.
“Sudah sering dilarang sama Krisna.
Akhirnya kalau tinggi sekarang anak saya (Krisna) ini yang memanjat,” jelasnnya.
Untuk mengisi waktu jika sedang tidak memanjat pohon, maka Mimin pun melakukan
pekerjaan lain. Dirinya sering membantu tetangga untuk menjadi buruh pencuci
baju dan sebagainya.
Anak sulungnya yang berusia 23 tahun ini
juga sekarang juga mengikuti jejak kedua orang tuanya menjadi pemanjat pohon
kelapa. Bahkan, sang anak ini kini juga sama mahirnya dengan kedua orang tuanya
itu. Si bungsu Bagus pun sebenarnya bisa, namun karena masih sekolah di SMP
Muhammadiyah Watukebo sehingga dilarang.
Menjadi pemanjat pohon kelapa ini
sebenarnya susah-susah gampang. Jika musim panas maka akan mudah untuk menaiki
pohon kelapa itu dan tidak banyak semut. “ Kalau musim hujan pohon licin. Juga
banyak semut dang angkrang yang menjdi penghalang,” tuturnya. Memanjat pun baru
dilakukan jika sudah terang dan cuaca panas dulu.
Meskipun sebenarnya untuk memanjat pohon
saat musim hujan ada trik termasuk untuk menghindari gigitan hewan semut dan
angkrang itu yakni memakai lotion anti nyamuk dan lebih berhati-hati. Namun,
dirinya tidak mau mengambil resiko lebih jauh untuk memanjat kelapa jika sudah
huajn.
Purwanto, suami Mimin mengatakan jika
dirinya awalnya juga khawatir dengan sang istri menjadi pemanjat pohon kelapa.
Namun karena kemudian dirasa bisa , akhirnya terus menjadi pemanjat hingga
sekarang. Diakuinya untuk memanjat pohon ini dilakukan jika ada permintaan dari
warga dan tetangganya saja. Karena memang untuk menjadi pemanjat juga hasilnya
kecil namun lumayan untuk menyambung hidup .
Untuk upahnya satu kelapa dihargai Rp 300-500 perbijinya,” ucapnya Dimana untuk
Rp300 di musim panas dan Rp 500 saat musim sekarang ini. Pihaknya mengatakan
dalam sehari bisa mengumpulkan panen hingga 50-100 biji. Maka penghasilannya
maksimal sehari Rp 50 ribu yang cukup untuk menghidupi keluarganya. Dirinya dan
keluarganya dan masih ingin terus dengan profesi ini hingga nanti sudah tidak
kuat lagi.(hdi)
Sumber ;Jawa Pos(Radar Jember)

Komentar
Posting Komentar