Langsung ke konten utama

Pamsimas, Solusi Konkrit Atasi Krisis Air di Desa Kramat, Sukoharjo, Tanggul




            Sumber Mata Air Jauh, Habis 616 Lonjor Pipa
    
      Tidak semua kelemahan akan selalu melemahakn. Apalagi jikia kelemahan dilawan dengan usaha dan kerja keras. Seperti masyarakat Desa Kramat Sukoharjo, Kecamatan Tanggul, yang tak lagi kekurangan air bersih.

                                                                                                           RULLY EFENDI,Tanggul
      
   KARAN air mulai terpasang di setiap rumah warga ada di Desa Kramat Sukoharjo,Tanggul. Seperti saluran PDAM, meteran penghitung biaya pengunaan air juga ada di puluhan rumah warga tersebut. Meski menggunakan meteran, namun air bagi warga tetap di gratiskan. 

     Memang, tidak semua rumah teraliri air bersih dari pipa itu. Namun, setidaknya sudah ada 65 kepala keluarga yang merasakan manfaatnya. Saluran air itu tak lain buah karya gagasan buah karya Kepala Desa (Kades) Kramat Sukoharjo Dwi Siwanto.

          Desa ini adalah sebuah desa yang ada dipinggiran gunung. Mendatanginya harus melewati beberapa desa, seperti Tanggul kulon, manggisan dan Patemon. Karena di pelosok, daerah ini pun tidak terakses angkutan umum. 

       Setiap kali musim kemarau, masyarakat di desa itu harus mengambil air bersih di pinggiran Afdeling Kali suko Kebun Zeelandia. Jika diukur, jaraknya mencapai 6 kilometer. Bagi pemilik uang , bisa mendatangkan truk tangki air. Namun, harga belinya lumayan mahal.

       Sejak tiga bulan terakhir ini, masyarakat di sana bisa bernafas lega. Air bersih ini bisa diaksesnya dengan mudah dan murah. Tinggal putar kran, air sudah dimilikinya dengan melimpah. “Kami beri nama Pamsimas,” ujar Kades Dwi Siswanto.

       Pamsimas, tak lain akronim penyediaan air minum berbasis masyarakat. Sengaja dia beri nama demikian, karena sejak awal penggalian sumber hingga air keluar semuanya dilakukan bersama masyarakat. Seribu tantangan pun harus mereka taklukan karena air bersih menjadi kebutuhan nwarga desa.

    Dwi, menunjukkan satu titik sumber mata air, yang ada di Laprak Kebun Zeelandia. Lokasinya ada diantara tebing tengah kebun karet, milik PTPN 12. Kendaraan tak bisa masuk kearea sumber mata air. Pengunjung harus jalan kaki sekitar satu kilometer. Selain itu, maih harus menyeberangi sungai tampa jembatan. Jika banjir datang, di pastikan tak bisa pulang.

    Namun, Dwi tetap menunjuk laprak di kebun Zeelandia karena yang dia tahu hanya di sana sumber mata air yang besar dan cukup deras berada. “Konsekuensi yang harus ditanggung, biayanya membengkak,” katanya .

      Hasil hitungan tim pembangunan  pemsimas, dari titik sumber mata air hingga kerumah warga, menghbiskan 616 lonjor pipa PVC dengan panjang masing-masing 6 meter. “Rinciannya 449 loncor ukuran 2 inch dan 167  3 inci “ akunya.

           Tetapi, itu masih belum cukup. Padahal, instalasi air masuk kerumah, juga ada sswadaya warga. Sehingga, sumber anggaran alokasi dana desa (ADD) untukDesa Kramat Sukoharjo  juga di buat belanja kekurang pipa sebanyak 340 lonjor berukuran masing-masing 4 meter.

        Bagi Dwi dan warga, pembelian pipa bukan satu-satunya tantangan sebab material hingga semen. Harus diangkutnya kelokasi yang cukup terisolir. Bahkan supaya efisien, mereka harus membuat jalan pintas. “ Tapi bahan bangunannya haru kami lempar dari tebing setinggi 30 meteran,” tuturnya.     

 Sebelumnya merekatetap memanggul pasir kapur, semen, sampai besi dari titik bongkar muat berjarak 500 meteran. Jika dating hujan, jalan di pastikan becek dan licin. Karena sulitnya medan, harga beli bahanbangunannya pun sampai harus dibayar dua kali lipat dari harga normal.

   Tidak heran, pembagunan bak penampungan yang di sebut bank air bersih sampai membutuhkan waktu dua bulan. Namun, mereka menjamin kualitas airnya karena rupanya ada metode filterisasi hingga tiga tahap .” Kualitas airnya bukan klaim kami karena itu hasil laboratorium,” kata Dwi dengan nada bangga.

 Air, memang sudah keluar dari titik sumbernya. Tantangan selajutnya, air harus benar-benar sampai kerumah warga . Terlebih , hampir seribu lonjor pipa air sudah di borong untuk proyek bersama warganya. Sementara disisi lain, ada cibiran kelompok masyarakat lain yang ragu air bisa sampai kerumah warga .

        Tetapi, mantap Pak kampung di Desa Kramat Sukoharjo itu memiliki keyakinan “ jika ada niat pasti ada jalan . “ Sampai akhirnya, diapun mengundang ahli saluran air, untuk mencari jalan pemasangan pipa air. “Ditelateni. Prinsipnya, pipa harus diarahkan kedataran yang lebih rendah,” jelasnya.

      Cara itu berhasil. Meski tampa bantuan mesin pompa ai, tekanan air cukup tinggi. Di rumah warganya pun mengalir air yang layak minum meski tampa dimasak sekalipun
Sekarang, kata Dwi, masih mengaliri di 65 warganya, Namun, itu hanya memanfaatkan 20 persen dari total potensi air. Jika semua ingin dimanfaatkan, bakal ada sekitar  260-an rumah lagi yang bias menerima manfaat.” Saya optimis , jika warga kompak bergotong royong, meski di pinggiran desa bias mandiri,” yakinnya.

      Kedepan, di bermimpi air itu bisa menjadi nggulan di desanya. Di kelola sebaik mungkin dalam kelembagaan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Kramat Sukoharjo.” Satu hal yang ingin kita buktikan bersama, kelemahan bisa menjadi keunggulan asalkan ada usaha dan kerja keras ,” tutupnya. (rul/mgc/hdi)

Sumber  ;Jawa Pos (Radar Jember)
Edisi       ;Jumat 12 Januari 2018
Di Salin Oleh :HK

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MP Picture, Kelompok videografi Jember yang Juara Nasional

          Kameranya Pinjaman, Bisa Bincang dengan Menteri Susi        Jember penuh dengan anak-anak muda kreatif. Sekelompok anak muda menunjukkan prestsi gemilang dengan menjadi juara di berbagai ajang video kompetisi tingkat nasional walaupun mengangkat tema dari local. Modalnya pun pas-pasan. Kamera pinjaman.

Kisah Keluarga Yang Jadi Pemanjat Pohon Kelapa

                  Kalau Pas Borongan, Satu Pohon Ada 50 Buah   Memanjat kelapa apalagi hingga ketinggian 7-10 meter, perlu memiliki keahlian khusus. Biasanya ini di lakukan oleh kaum adam. Namun, Di Dusun Watukebo, Desa Andongsari, Ambulu ada sekeluarga yang 23 tahun memiliki profesi menjadi pemanjat pohon kelapa ini.                                                                          RANGGA MAHARDIKA-JUMAI , Jember.