Langsung ke konten utama

Indra Juniawan, Guru Yang Hanyut di Sungai Mayang di Mata para Kerabat




           Dia Beli Loker Untuk Murid… Ternyata Ini Firasat

 Indra Juniawan, Warga Dusun Watukebo Desa Andong Sari, Ambulu terseret arus sungai usai merumput ternyata bukan sosok biasa. Selain guru di Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah Watu Kebo, dirinya Ketua Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Jember alias relawan tanggap bencana organisasi Muhammadiyah.
                                                                                        RANGGA-JUMAI,Jember


SEJUMLAH  warga, kerabat dan relawan yang berkumpul di rumah Arif Fitriadi, warga Watu Kebo yang juga rekan Indra Juniawan terlihat masih syok dan sedih.

     Semua relawan yang melakukan pencarian terhadap Indra Juniawan, memang dipusatkan dirumah Arif.

      Mereka masih menunggu kepastian kabar dari tim relawan bencana yang terus melakukan pencarian hingga kepayangan Ambulu.

      Merekapun masih tidak percaya dengan kejadian yang terjadi lusa lalu yang membuat Indra terseret arus sungai Mayang ini usai merumput.

      “Hendro (panggilan akrab Indra) ini secara SK masih ketua MDMC Jember,” tutur Arif. Namun, memang sejak enam bulan lalu sudah vakum dan tidak terlalu aktif di MDMC dan menyerahkan amanat ketua kepada Farud.

       Alasannya, ingin fokus terhadap terhadap hidupnya. Kebetulan Indra yang berusia 30 tahun ini memang belum menikah. Sehingga dengan pengalamannya sebagai relawan bencana sebenarnya tahu cara  menghadapi arus air. Dirinya juga bisa berenang. Apalagi, saat masih di MDMC juga dikenal sebagai sosok yang aktif dan peduli sesama rekan di organisasi.

    “Ketika ada kabar musibah ini, sejumlah relawan MDMC Jawa Timur dari Magelang,Surabaya, Lamongan dan Malang datang  semalam. Hari ini (kemaren, red) ikut pencarian sekarang,” jelasnya. Namun, takdir berkehendak lain hingga Indra ikut hanyut terbawa arus sungai Mayang ini.

     Hanyutnya korban ini seperti membuka luka lama dikalangan tetangga dan kerabatnya. “Karena bapaknya, Pak Kaelan Mislan yang di panggil Thailand juga dulu terseret arus laut saat memancing di daerah Papuma. Kejadiannya juga belum genap setahun,” terangnya. Bukan hanya ayahnya, kakeknya juga mengalami hal yang sama saat memancing di laut.

     Bukan hanya rekan di organisasi saja, sejumlah guru rekan kerja  Indra di MIM pun juga masih kaget dengan kejadian ini . “Sebagai guru olahraga, Hendro ini dikenal sosok yang penuh semangat, apalagi kalau mengajar senam ke anak-anak ,” ucap Indra Puspita Arum, guru Matematika dan wali kelas 4B di MIM Watu Kebo. Sedangkan Indra sendiri adalah wali kelas dikelas 4A.

    Meskipun demikian, dikalangan guru sosok Indra ini dikenal sebagai sosok yang pendiam dan jarang mengobrol apalagi nimbrung dengan guru-guru. Namun, jika mengerjakan tugasnya selalu cepat dan rapi. “Malah kalau istirahat lebih sering main dengan murid-murid dilapangan,” tutur Arum.

     Bahkan tidak jarang Indra ini membuat kehebohan pada murid-muridnya . “Sering menggoda anak-anak. Misalnya diganggu makan dan sebagainya,” ucapnya mengenang sosok Indra  . Sehingga dengan kejadian ini memang banyak anak-anak yang merasa kehilangan sosok Indra ini.

     Sementara itu, Novri, wali kelas 1 MIM Watu Kebo juga menuturkan hal yang sama . Meskipun pendiam tetapi sebenarnya orang yang ramah dan supel. Pulang sekolah diakui jarang kumpul-kumpul. “Karena di sekolah juga merangkap sopir . Jadi pulang sekolah langsung mengantarkan anak-anak yang diantar jemput pulang,”jelasnya .

     Namun, sejak masuk awal tahun baru ini dirinya merasa ada perubahan yang kentara pada sosok Indra. Dimana dirinya terlihat sangat semangat dalam membimbing murid dikelas 4B .” Dua hari sebelum kejadian ini tampak semangat menyelesaikan tanggung jawabnya,” ucapnya. Termasuk membayar sejumlah tanggungan kewajiban dan hutang di sekolah dua hari sebelum kejadian.

      Bahkan, beberapa waktu lalu membelikan dua buah loker untuk anak-anak kelasnya. “Nilainya lumayan, jutaan. Katanya harganya sekitar Rp 3,5 juta,” terangnya. Dimana loker ini sebenarnya hendak dibeli murid dengan iuran seluruh murid dikelas tersebut. Seperti ada firasat tidak bisa mengumpulkan iuran, maka usai membeli loker ini dirinya memasrahkan pembayaran dari murid kepada bendahara sekolah. 

    “ Seperti memberikan kenang-kenangan untuk murid,” jelas Novri sembari menyeka air mata yang tiba-tiba menetes begitu saja . Selain itu, ada firasat lain sebelum hilang pukul 17.00 WIB itu. Yakni guru-guru sebelumnya sekitar pukul 16.00 WIB sempat ada acara makan bersama . Dimana biasanya Indra ini slalu dobel jika makan, namun kemaren tumnben tidak nambah makannya.

   Namun, semua guru awalnya tidak menganggap jika ini firasat dan mengira mungkin sebelumnya sudah makan sehingga masih kenyang. Yang jelas, kejadian ini membuat seluruh orang yang mengenalnya pun merasa kehilangan. Semua berharap jika Indra bisa di temukan . “Kami berdoa segera di temukan dan selamat, amin,” tutupnya. (ram/hdi)

  Sumber  ; Jawa Pos (Radar Jember)
  Edisi       ;Minggu 7 Januari 2018

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MP Picture, Kelompok videografi Jember yang Juara Nasional

          Kameranya Pinjaman, Bisa Bincang dengan Menteri Susi        Jember penuh dengan anak-anak muda kreatif. Sekelompok anak muda menunjukkan prestsi gemilang dengan menjadi juara di berbagai ajang video kompetisi tingkat nasional walaupun mengangkat tema dari local. Modalnya pun pas-pasan. Kamera pinjaman.

Pamsimas, Solusi Konkrit Atasi Krisis Air di Desa Kramat, Sukoharjo, Tanggul

            Sumber Mata Air Jauh, Habis 616 Lonjor Pipa            Tidak semua kelemahan akan selalu melemahakn. Apalagi jikia kelemahan dilawan dengan usaha dan kerja keras. Seperti masyarakat Desa Kramat Sukoharjo, Kecamatan Tanggul, yang tak lagi kekurangan air bersih.

Kisah Keluarga Yang Jadi Pemanjat Pohon Kelapa

                  Kalau Pas Borongan, Satu Pohon Ada 50 Buah   Memanjat kelapa apalagi hingga ketinggian 7-10 meter, perlu memiliki keahlian khusus. Biasanya ini di lakukan oleh kaum adam. Namun, Di Dusun Watukebo, Desa Andongsari, Ambulu ada sekeluarga yang 23 tahun memiliki profesi menjadi pemanjat pohon kelapa ini.                                                                          RANGGA MAHARDIKA-JUMAI , Jember.