Langsung ke konten utama

Kalisat tempo Doeloe, Kreatifitas Bangkitkan Literasi Warga Perdesaan



Kenang Sejarah dari Belanda dan Cerita Masa Lalu Warga

Sjarah selalu membawa kesan eksotis bagi banyak orang.Melalui ini, inisiatif sekumpilan anak muda di kalisat ,masa lalu disekitaran desanya, coba di tampilkan dalam sebuah format acara yang tidak kaku. Ikhtiar membangun daya literasi memlalui visual.


ADI FAIZIN,Kalisat

 SEBUAH rumah bergaya arsitektur kuno sore itu tampak ramai. Rumah yang ada di sebelah utara Stasiun Kereta Api Kalisat itu selama beberapa hari memajang beberapa benda yang berkesan memorabilia atau punya kenangan sejarah tertentu.

    Kesan eksotis masa silam tak bisa dilepaskan dari pemandangan yang ada di rumah tersebut. Rumah tersebut berada dikawasan kampung yang disebut warga sebagai Lorskal atau Lor (utara) Stasiun Kalisat.



    Acara bertajuk Kalisdat Tempo Doeloe (KTD) 3 ini digelar di rumah milik pasangan RZ Hakim dan Zuhana AZ, pasangan muda yang ada di Kalisat.

      “ Ini gelaran kami yang ketiga. Acaranya informal tidak bisa di sebut pameran karena memang tidak mengikuti pakem yang ada,” tutur Fanggi Gusti Pranata, salah seorang pemuda Kalisat yang tutur menggelar acara KTD 3 ini.

    Kesan informal sangat terasa, jika menilik penyelenggara yang tidak berbentuk kepanitiaan  khusus. “ Ini hanya kumpul-kumpul saja, kebetulan kita lagi sama-sama senggang, saya juga libur kuliah. Mempersiapkannya sistem kekeluargaan, siapa yang mau dan ada waktu, ya itu yang bekerja ,”  jelas Fanggi yang sedang berkuliah  di Fakultas Ekonomi Universitas Moch Sroedji ini. Fanggi juga menolak mereka di sebut sebagai komunitas.

    Di banding gelaran pertama dan kedua, KTD 3 yang dihelat sejak akhir Desember 2017 hingga awal Januari 2018 ini , ada beberapa “perkembangan’ dari barang-barang yang di pertunjukkan . “Konsep awal memang foto . lalu di gelarana kedua , kita sertakan juga mainan anak-anak . Yang sekarang kita sertakan barang-barang lain seperti majalah lawas , sepeda dan telepon kuno dan lain-lain,” tutur Fanggi.

        Foto-foto yang di tampilkan , merupakan foto-foto lawas (berbentuk hitam putih ) milik warga yang ada di desa-desa di Kecamatan Kalisat dan sekitarnya. “Foto sengaja tidak kita tulis keterangannya. Jadi pengunjung yang penasaran, bisa bertanya langsung  ke warga dan dari situ kemudian ada proses bercerita, “tutur Fanggi.

            Karena banyaknya respon, menjelang berakhirnya Kalisat Tempo Doeloe (KTD) 3, penyelenggara membuat booklet sederhana yang berisi cerita-cerita tentang Kalisat di masa silam. Beberapa kisah masa lalu warga Kalisat, di tulis secara apik dalam  booklet yang antara lain di tulis oleh pasangan Zuhana AZ dan RZ Hakim itu.

     Antara lain seperti kisah Soedarmo, pria yang empat tahun lalu berusia 89 tahun yang merupakan sesepuh Gerja Kristen Jawi Wetan (GKJW) yangt ada di Kalisat.

     Kisah Soedarmo menjadi menarik karena menjadi potret toleransi yang ada di Kalisat. GKJW Ajung-Kalisat terhubung dengan GKJW yang ada diDesa Sumberpakem, Kecamatan Sumber Jambe, tidak jauh dari Desa Ajung, Kecamatan Kalisat. Gereja kecil itu berdiri kukuh tampa pernah ada konflik agama yang ada di kawasan sekitarnya. Dari dua titik itulah –Sumberpakem dan Ajung-Kalisat Kristenisasi di Jember bermula dengan damai, pada masa kolonial Belanda.

    Ebing, menjadi penduduk Jember pertama yang di baptis dan dan menjadi pemeluk agama Kristen  pada 23 Juli 1882. Kitab Injil yang di gunakan juga di terjemahkan kedalam bahasa Madura.

    “Waktu pertama kali saya di Kalisat, 1959, ketika itu juga ada (Gereja Kristen) Jawi Wetan namun masih berupa perkumpulan. Saya gabung dengan mereka dan acara berpindah-pindah karena belum ada gereja,” tutur Soedarmo sebagaimana di kutip dalam booklet tersebut.

     Menurut RZ Hakim- adalah satu penggagas gelaran KTD-, ini juga ikhtiar untuk menekan kenakalan remaja yang ada di Kalisat . “Kalisat ini wilayah desa yang dalam beberapa hal punya karakter seperti kota. Tetapi watak sebagian pemudanya ada yang suka berkelahi dan mabuk-mabukan. Menurut saya, ada dasar-dasar yang belum selesai disini. Mungkin belum ada kebanggaan tentang Kalisat,” tutur pria yang bersama istrinya berprofesi sebagai jurnalis lepas untuk sebuah media lingkungan hidup yang berbasis di Jakarta ini.

     Karena itu, menurut Hakim, penting untuk menumbuhkan kesadaran bagi pemuda akan sejarah diwilayahnya sendiri. “ Kita didesa, sulit generasi muda mencintai desanya sendiri. Kalau mengadakan acara besar seperti dangdut, mungkin mudah. Disini, daya literasi masih sulit, karena itu visual yang berbicara,” tutur Hakim.

          Upaya menumbuhkan kesadaran akan sejarah didesa sekitar muncul dari kebiasaan Hakim dan rekan-rekannya. “Kalau ada waktu senggang , kita suka kumpul-kumpul dan silaturahmi ketetangga termasuk sesepuh. Disitu ada banyak cerita yang menarik,’ tutur Hakim.

         Dari situ, Hakim kerap mendapatkan foto-foto lawas yang menutunya akan sayang jika tidak didokumentasikan. ‘Disini budaya tuturnya tinggi ketimbang membaca,” jelas Hakim.

         Salah satu cerita yang didapatkan adalah tentang Mbah Moeljen, salah satu prajurit anak buah Letkol Moch Sroedji saat perjuangan kemerdekaan di Jember. Saat ini Mbah Moeljan masih hidup dan tinggal di desa Jatian, Kecamatan Pakusari yang tidak jauh dari Jenggawah. Meski kondisinya sedang sakit-sakitan, Hakim dan rekan-rekannya mendapatkan  beberapa cerita menarik dari Mbah Moeljan. 

       “Kalau di ceritakan kepada warga, mungkin tidak semuanya percaya karena dianggap riya’ atau apa. Tapi yang diceritakan adalah hal-hal sederhana, seperti kebiasaan Letkol Sroedji dalam berwudu dan sebagainya, “ tutur hakim. Baju tentara serta piagam penghargaan sebagai veteran perang yang diterima Mbah Moeljan ikut di pamerkan dalam acara tersebut. 

        Selain itu, juga terdapat beberapa poster film lawas. Menurut hakim, dimasa lalu terdapat sebuah gedung bioskop di Kalisat, bernama Binaria. Gedung yang berdiri di sekitar era 1950-an ini, berada di seberang Koramil Kalisat. Ketika Presiden Soekarno pada tahun 1960 mengeluarkan kebijakan agar semua nama asing diganti, bioskop ini tidak terimbas. “Seiring kemajuan televisi dan VCD, bioskop ini gulung tikar  pada era 1990-an. Sekarang gedungnya beralih fungsi  menjadi toko Baju Surya,” tulis hakim dalam booklet-nya.

             Salah satu pengunjung Nurfitriani mengaku terkesan dengan acara yangat di kemas secara sederhana tersebut. Apresiasi diberikan  antara lain karena acara di gelar secara mandiri dengan melibatkan pemuda setempat. “ Dari kegiatan sederhana ini ini bisa mengangkat kearfian lokal lokal, bahwa setiap desa punya keunikan sejarah tersendiri yang perlu di lestarikan,” tutur mahasiswi Fakultas Pertanian  Unej yang juga aktif di pers kampus ini.

     Pernyatan serupa juga diungkap Redy Saputro, warga Bondowoso yang juga sempat menikmati Kalisat  Tempo Doeloe (KTD) pada akhir 2016. “ Keren banget, karena swadaya dari warga sendiri. Kita generasi muda bisa melihat sejarah masa lalu di desa-desa yang ada di sekitar sini,” tutur Redy. (ad/c1/hdi)

    Sumber  ; Jawa Pos(Radar Jember)
   Edisi       ; Selasa 9 Januari 2018

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MP Picture, Kelompok videografi Jember yang Juara Nasional

          Kameranya Pinjaman, Bisa Bincang dengan Menteri Susi        Jember penuh dengan anak-anak muda kreatif. Sekelompok anak muda menunjukkan prestsi gemilang dengan menjadi juara di berbagai ajang video kompetisi tingkat nasional walaupun mengangkat tema dari local. Modalnya pun pas-pasan. Kamera pinjaman.

Pamsimas, Solusi Konkrit Atasi Krisis Air di Desa Kramat, Sukoharjo, Tanggul

            Sumber Mata Air Jauh, Habis 616 Lonjor Pipa            Tidak semua kelemahan akan selalu melemahakn. Apalagi jikia kelemahan dilawan dengan usaha dan kerja keras. Seperti masyarakat Desa Kramat Sukoharjo, Kecamatan Tanggul, yang tak lagi kekurangan air bersih.

Kisah Keluarga Yang Jadi Pemanjat Pohon Kelapa

                  Kalau Pas Borongan, Satu Pohon Ada 50 Buah   Memanjat kelapa apalagi hingga ketinggian 7-10 meter, perlu memiliki keahlian khusus. Biasanya ini di lakukan oleh kaum adam. Namun, Di Dusun Watukebo, Desa Andongsari, Ambulu ada sekeluarga yang 23 tahun memiliki profesi menjadi pemanjat pohon kelapa ini.                                                                          RANGGA MAHARDIKA-JUMAI , Jember.