Langsung ke konten utama

Menelusuri Jejak Panjang Sejarah Jember




             Mencoba Gugat Hari Jadi Yang Bernuansa Kolonial

   Tanggal 1 Januari bagi masyarakat Jember tidak hanya di peringati sebagai tahun baru. Sebab tanggal tanggal tersebut juga dijadikan sebagai Hari Jadi Jember. Namun, penetapan itu sejak beberapa tahun terakhir memunculkan dikalangan pegiat dan ahli sejarah. Kenapa ?

                              ADI FAIZIN, Jember Kota

      MESKI geliatnya kalah dibanding gegap gempita perayaan tahun baru, tanggal 1 Januari secara resmi juga diperingati sebagai Hari Jadi Jember. Dalam fersi resmi pemerintah, Jember sebagai sebuah kota dinyatakan terbentuk pada Januari 1929.

       “Penetapan itu mengacu pada staatblad 322 yang di tetapkan pemerintah kolonial Belanda. Ini sudah seharusnya ditinjau ulang,” tutur pegiat sejarah Jember, Zainollah Ahmad saat dihubungi Jawa Pos Radar Jember. Dalam staatblad 322, ditetapkan Jember terbentuk pada 1 Januari 1929.
      Selama ini, penulisan sejarah nasional, termasuk penetapan hari jadi Jember sangat kental bernuansa kolonial.

        Upaya untuk merefisi  hari jadi Jember bukannya tidak ada sama sekali. Pda tahun 2015, mulai menguat wacana untuk merevisi hari jadi Jember. Hingga kemudian pemerintah membentuk tim kajian  Hari Jadi Jember  dimana Zainollah menjadi salah satu anggotanya.

          “Pada 2016, kami sudah menyelesaikan karya akademis tentang Hari Jadi Jember  dimana terdapat tiga opsi penetapan didalamnya berdasarkan kajian seajarah ,” tutur pria yang juga  Kepala SMP PGRI 02 Rambipuji trsebut.

       Opsi pertama, yakni Hari Jadi Jember ditetapkan pada 18 September, mengacu pada perjalanan muhibah Hayam Wuruk ke Jember , tepatnya di Desa Cakru, kecamatan Kencong. Berdasarkan perhitungan sejarah  yang dilakukan oleh Zainullah dan rekan-rekannya, peristiwa tersebut terjadi pada 18 September 1359. “Opsi pertama ini  yang lebih kuat dan kami rekomendasikan  untuk dipilih. Karena lebih bersifat nasionalis,” tutur alumnus Jurusan  Pendidikan Sejarah  IKIP PGRI Jember ini.

       Adapun opsi kedua mengacu pada pemisahan blambangan Barat dan Blambangan Timur  yang kemudian melahirkan kadipaten Jember dengan ibukota di Puger.  Adapun opsi ketiga , lebih modern lagi , yakni pada peristiwa pemisahan  wilayah Jember dan Bondowoso. Sayangnya hasil kerja tim tersebut yang dilaporkan pada 2016 itu, tidak ada tindak lanjut. Hingga kini, belum ada keputusan dari Pemkab Jember untuk menindak lanjuti hasil kajian tersebut.

       “Uang  rakyat digunakan untuk tim kajian menjadi percuma yang lebih penting, Hari Jadi Jember yang sekarang itu terlalu Belanda-Sentris dan tampa ada kajian yang mendalam ,”

      Menurut Zainollah, penetapan Hari Jadi Jember pada 1 Januari tersebut dilakukan secara terburu-buru. “Berdasarkan penelusuran yang kami lakukan, penetapan itu dilakukan pada sekitar tahun 1985, oleh salah satu pimpinan organisasi kepemudaan di jember. Dari saksi-saksi mengatakan , memang penetapan nya asal jadi saja . Sehingga perlu ada pelurusan  sejarah,” pungkas pria yang juga menjadi koordinator Komunitas Bhattara Saptapbrabhu ini
.
         Zainollah telah menuangkan hasil kajiannya seputar sejarah Jember kedalam sebua buku  yang berjudul Topographia sacra: Menelusuru Sejak Sejarah Jember Kuno  yang diterbitkan pada 2015. Tak hanya Zainollah. Upaya menggali jejak sejarah Jember secara serius dan menuangkannya dalam bentuk buku, juga dilakukan oleh pegiat sejarah lainnya. Salah satunya adalah Yebqi Farhan.

       Pada pertengahan 2017, Yebqi yang juga aktif di komunitas Bhattara Saptaprabhu, ini menerbitkankan buku berjudul; Masa Lalu Jember; Studi Historis Peradaban Jember Pada Masa Majapahit. Ini menjadi buku kedua tentang Sejarah Jember yang diterbitkan oleh anggota komunitas yang beranggotakan guru-guru sejarah yang memiliki kepedulian terhadap historiografi Jember tersebut.

     “Dalam buku ini saya menekankan, bahwa Jember di masa Majapahit sudah memiliki peradapan yang luar biasa. Mulai dari aspek ekonomi, sosial-budaya, politik hingga yang paling luar biasa adalah dalam kehidupasn agama,” tutur pria yang juga guru di SMP Nurus Shobah Mumbulsari ini.

      Salah satu bukti kemajuan peradaban di Jember pada masa Majapahit adalah  Candi Deres yang berada di Desa Purwoasri, Kecamatan Gumukmas. Candi tersebut saat ini masih sedang dalam masa perbaikan. “Berdasarkan bukti-bukti sejarah yang kuat, Candi tersebut merupakan peninggalan Majapahit,” tutur alumnus Jurusan Pendidikan Sejarah  IKIP PGRI Jember ini.

   Selain itu, pusat pemerintahan atau peradapan di Jember pada masa Majapahit, menurut Yebqi dalam bukunya, berada di lokasi yang kini menjadi Alun-Alun Kecamatan Ambulu. “Berdasarkan bukti-bukti yang ada, lokasi tersebut sudah memenuhu tipologi kota-kota kuna pada masa Majapahit,”ujar pria kelahiran 16 Agustus 1991 ini.

     Selain menelusuri berbagai bukti arkeologis yang tersebar di Jember, Yebqi juga menggunakan studi literatur dalam penulisan buku setebal 160 halaman tersebut. Salah satunya yang utama adalah kitab Negara Kertagama. “Terutama peristiwa singgahnya Raja Hayam Wuruk ke Jember. Yang itu juga menjadi salah satu opsi penetapan Hari Jadi Jember, sebagai mana yang dilakukan pak zainullah,” pungkas Yebqi Farhan. (ras)

    Sumber ;  Jawa pos(Radar Jember)
   Edisi      ;1 Januari 2018

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MP Picture, Kelompok videografi Jember yang Juara Nasional

          Kameranya Pinjaman, Bisa Bincang dengan Menteri Susi        Jember penuh dengan anak-anak muda kreatif. Sekelompok anak muda menunjukkan prestsi gemilang dengan menjadi juara di berbagai ajang video kompetisi tingkat nasional walaupun mengangkat tema dari local. Modalnya pun pas-pasan. Kamera pinjaman.

Pamsimas, Solusi Konkrit Atasi Krisis Air di Desa Kramat, Sukoharjo, Tanggul

            Sumber Mata Air Jauh, Habis 616 Lonjor Pipa            Tidak semua kelemahan akan selalu melemahakn. Apalagi jikia kelemahan dilawan dengan usaha dan kerja keras. Seperti masyarakat Desa Kramat Sukoharjo, Kecamatan Tanggul, yang tak lagi kekurangan air bersih.

Kisah Keluarga Yang Jadi Pemanjat Pohon Kelapa

                  Kalau Pas Borongan, Satu Pohon Ada 50 Buah   Memanjat kelapa apalagi hingga ketinggian 7-10 meter, perlu memiliki keahlian khusus. Biasanya ini di lakukan oleh kaum adam. Namun, Di Dusun Watukebo, Desa Andongsari, Ambulu ada sekeluarga yang 23 tahun memiliki profesi menjadi pemanjat pohon kelapa ini.                                                                          RANGGA MAHARDIKA-JUMAI , Jember.