Modernisasi Perlu, Namun Yang
Penting adalah
Semangat
Generasi Penerus
Tiadak banyak
pengrajin peralatan besi yang masih menggunakan car-cara tradisional dalam
proses produksinya. Namun dirayap, Patrang, terdapat salah satu pengrajin besi
atau pandai besi yang masih menggunakan peralatan sederhana untuk menghasilkan
beragam peralatan.
Didalam
gubuk berukuran Sembilan meter persegi tersebut, tiga pria paruh baya serius
menekuni aktifitas masing-masing. Ajib, yang tertua dari ketiganya, memanaskan
bilah besi diatas perapian yang menyala. Sementara Mustafa di
sebelahnyabertugas untuk menyalakan api, sembari bersiap memegang palu, untuk
membentuk bilah besi. Disapa Pak Im, menghaluskan permukaan celurit yang sudah
terbentuk sempurna menggunakan gerinda. Proses ini biasanya memakan waktu
kurang lebih setengah jam untuk membuat satu celurit.
Memasuki
waktu adzan zuhur mereka laut (berhenti).
Ini sudah jadi kebiasaan ketiga pria tersebut , berhenti bekerja ketika
kumandang adzan terdengar. Mereka segera membereskan peralatan kerjanya untuk
kemudian membersihkan badan dan salat berjamaah.
Ajib
mengaku sudah menjadi pengrajin pandai besi sejak sejak lebih dari 30 tahun
lalu. Meski usianya kini sudah lebih dari 50 tahun , fisiknya sama sekali tak
tampak lelah dalam mengerahkan tenaga membentuk bilah besi tersebut. Malah,
sembari bekerja, dirinya tak pernah berhenti bercanda.
“Saya
masih muda , kelahiran tahun 1992,” selorohnya. Bahkan ketika tau maksud
kedatangan tim Jawa Pos Radar Jember , Ajib masih juga melontarkan guyonan
ringan. “Waduh, saya gak boleh masuk Koran atau TV, nanti nggak cukup,” ujarnya
sembari tertawa.
Sejak
menjadi pandai besi, sudah beragam peralatan yang muncul dari tangan
terampilnya. Kebanyakan adalah peralatan pertanian, yang banyak di manfaatkan
oleh masyarakat sekitar . “Tidak hanya masyarakat sini saja tapi banyak juga
yang datang dari kota,” lanjutnya.
Dalam satu
hari, biasanya Ajib membuat celurit hingga 16 buah. Percelurit di hargai
sekitar Rp 30 ribuan. Sedangkan untuk peralatan lain seperti cangkul, pisau,
dan linggis dihargai mulai Rp 35 ribuan. “Yang paling mahal, pernah membuat
semacam cakram dan piso mbako (pisau
tembakau), harganya bisa sampai Rp 200 ribu,” terang pria tersebut.
Tidak ada
waktu khusus dimana permintaan melonjak. Menurut Ajib, dirinya selalu mengirim
pesanan dengan jumlah konstan keberbagai daerah, salah satunya di Sempolan. “
Kadang-kadang ada juga yang datang langsung kesini,” imbuhnya.
Meski
lokasinya dipelosok, namun ada saja yang datang ketempat tersebut. Banyak juga
pelanggan yang memilih membeli langsung di pandai besi ketimbang di tempat lain.
“ Katanya kalau di tempat lain nggak
landep (tidak tajam). Nggak tau juga
kenapa, mungkin bisa dari bahan bakunya atau proses pembuatannya, “ ujar Pak
Im.
Bahan
bakunya didapat dari Daerah Gebang, yaitu besi-besi dan plat baja. Biasanya
Ajib memesan bahan mentah sebanyak setengah kuintal, dan bisa dipakai hingga
lebih dari satu bulan.
Dengan
semangat, Ajib dan Pak Im menunjukkan proses pembuatan celurit tersebut. “Nanti
dari potongan besi ini di panaskan, lalu di pukul-pukul sampai pipih .
Selanjutnya dihaluskan dan di bentuk pegangannya,” terangnya sembari
menunjukkan proses tersebut secara visual.
Setelah
bentuk celurit tersebut jadi, maka tugas Pak Im untuk menghaluskannya . Berbeda
dengan proses zaman dahulu yang menggunakan penghalus manual, kini mereka mulai
melakukan modernisasi. Pak Im menggunakan gerinda listrik untuk menghaluskan
permukaan celurit . Begitu pula dengan bara api yang juga di nyalakan dengan bower.
Modernisasi
sederhana ini sudah dilakukan Ajib dan Pak Im sekitar tiga tahun lalu .
Menurutnya, kalau masih memakai tangan saja, prosesnya akan menjadi lebih lama
. Kalau nggak begitu nggak bisa cepat jadi,” imbuh Pak Im.
Profesi ini
dilakukan Ajib dan Pak Im hampir setiap
hari. Jika pegawai kantoran umumnya libur di hari Minggu, mereka meliburkan
diri setiap hari Jumat.” Khusus hari Jumat kita libur . Kalu ada pesanan pun
kita selalu bilang kalau Jumat libur,” tegasnya.
Memasuki era
jaman now yang penuh dengan
modernisasi, Ajib tak menampik jika hal tersebut memang dibutuhkan untuk bisa
bertahan dalam melakoni pprofesinya . Namun baginya, yang lebih penting adalah
kemunculan generasi berikutnya yang menjadi penerus. Karena itu dirinya
mengajak Mustafa untuk belajar menjadi generasi penerus pandai besi.
Mustafa
sendiri sudah ikut bapaknya sejak masih kecil, sehingga aktifitas pandai besi
ini sudah tak asing lagi dalam hidupnya. Dari tiga putra Ajib, hanya Mustafalah
yang mengikuti jejak sang ayah. Kedua saudaranya lebih memilih bekerja dikota
dari pada melanjutkan bisnis keluarga tersebut . “Soalnya Bapak yang nyari,kalau ngngak ada generasi
penerusnya nanti siapa yang mau buat celurit,” ujar Mustafa ketika ditanya. (hadi/mgc)
Sumber ;Jawa Pos(Radar
Jember)
Edisi ;Sabtu 6 Januari 2018

Komentar
Posting Komentar