Tidak Mau Kalah Cuma Gitu-gitu Aja
Hajatan
pesta demokrasi pemilihan bupati dan wakil bupati bakal digelar 27 Juni nanti.
Gerakan-gerakan politik sudah mulai dilancarkan untuk merebut hampir satu juta suara
hak pilih. Tentu menuai banyak harapan . Semua tidak ingin Lumajang biasa-biasa
saja.
HAFID ASNAN-Lumajang
Apalagi pada
momen Pilkada 2018 nanti. Lebih dari sejuta penduduk punya harapan besar.
Mereka ingin, kota yang terdiri dari 21 kecamatan ini bisa maju dan berkembang.
Tidak Cuma itu-itu saja tampa prestasi yang melejit.
Tak heran
jika belakangan ini, disetiap warung kopi, di pasar-pasar, bahkan di majelis-majekis
taklim aroma pilihan kepala daerah sudah
mulai dirasakan. Setiap perbincangan tidak lepas dari siapan calon yang
didukung. Mengunggulkan yang sana, mengelu-elukan yang situ, sampai saling
guyon dan saling ledek mulai mewarnai suasana.
Dari sekian
obrolan itulah, muncul perkiraan siapa yang bakal menang mendulang suara terbanyak
dari rakyat. Muncul juga pikiran dan harapan. Tentang bagaimana seharusnya
membangun Lumajang.
Akademisi juga punya secuil harapan. Kasno T. Kasim, dosen dikampus STIE Widya Gama Lumajang menilai
birokrasi sebagai ujung tombak
efektifitas pemerintahan dalam memberikan pelayanan perlu ditata dan di
perkuat. “Sehingga mampu menjadi simbol dan pelayanan prima yang profesional,”
ungkapnya.
Bupati
kedepan, kata dia, harus memiliki ketajaman dalam melihat potensi Lumajang.
Harus dikembangkan sebagai icon pengembangan ekonomi daerah. “ Pengembangan
sector ekowisata dan pemberdayaan UMKM misalnya, itu sangat potensial,”
jelasnya.
Pada sektor
keamanan sebagai penunjang pembangunan juga perlu terjamin. “Jangan lagi ada
begal di mana-mana,” tambahnya.
Untuk
tata kelola, pemerintah termasuk hubungan kelembagaan eksekutif- legeslatif dan
yudikatif harus terkontruksi dengan
benar. Tidak serta merta. Sehingga pemerintahan dapat berjalan dengan efektif
dalam menupang pembangunan daerah menuju kesejah teraan masyarakat.
Dari kalangan anak-anak muda yang peka perkembangan zaman dan teknologi
tentu tidak ingin kreatifitas tersumbat. Butuh penyaluran yang pas . Dharapkan
bupati nanti bisa mengakomodasi kreasi-kreasi mereka.
Djohari Irianto, salah satu pegiat
komunitas dan pelaku pemberdayaan masyarakat di Lumajang sangat berharap ada
nuansa baru setelah bupati terpilih nanti. Dia dan ratusan pegiat komunitas dan
pemberdayaan inginnya ada kepedulian.
Tentu tidak
jauh dari sosok pemimpin yang akomodatif. “Serta peka terhadap geliat
pemberdayaan. Sebab, disitulah karya-karya kita tunjukkan yang semuanya demi
Lumajang,” ungkapnya.
Dia
juga berharap, bupati terpilih nanti mampu memahani dan memberikan wadah. Serta
kesempatanyang lebih luas kepada seluruh pegiat pemberdayaan untuk berkarya.
Bebas menunjukkan kreativitasnya mampu beraktualisasi tampa sekat,” ujarnya.
Sosok
bupati nantinya sangat diharapkan begitu tegas. Hadir sebagai pengayom untuk
masyarakat Lumajang. Tidak ada sekat-sekat kepentingan. “Dan terpenting adalah
sosok bupati yang menjdi problem solving bagi setiap persoalan.
Bukan malah menyembunyikan persoalan,” katanya.
Dari
komunitas olah raga juga punya harapan besar . Ngateman SH, ketua KONI Lumajang
sempat di temui dan ditanya bagaimana harapannya pada bupati terpilih 2018
nanti. Lelaki yang juga bos Amanda Group ini mengaku juga ingin terus mendapat
dukungan bupati terpilih nanti dalam memajukan olah raga di Lumajang.
Dia
meyakini, akan muncul calon dari tokoh-tokoh terbaik di Lumajang. “Harapan kami
dari tokoh yang baik itu, bisa dipilih dengan nurani jernih. Dan terpilih yang
terbaik dari yang baik,” ujarnya.
Berkaitan
dengan siapa pun yang akan memimpin Lumajang, KOMI tetap berharap bahwa bupati
kelak lebih peduli dengan kemajuan olahraga.” Kemajuan tida bisa dilihat dari
prestasi semata. Bicara prestasi berarti bicara kewajiban pemerintah dengan
menyiapkan sarana dan prasarana penunjang lain,” ujarnya.
Semua elemen
yang ada harus ada perhatian. Termasuk pada atlet , para Pembina harus dan juga
para purna atlet . Mereka yang mantan atlet berprestasi itu masih layak dapat
apresiasi dan perhatian. Jangan sampai nanti setelah purna tidak dihiraukan ,
tidak ada pegangan hidup . “Ada beberapa sekarang ini. Harapan nanti ada
perhatian. Jika ada anggaran nanti walaupun tidak banyak perlu ada kepedulian
buat mereka,” tambahnya.
Dia
meyakini, kewajiban mengantar generasi Lumajang sebagai atlet
professionalismnya menjadi atlet. “ tapi yang tidak dapat ? ya harus diopeni,” ujarnya.
Dia
menyebutkan masih banyak atlet yang kurang dapat perhatian. Makanya perlu
perhatian kongkrit. Seperti mereka yang sudah manula jangan sampai sakit
kekurangan gizi. Jaminan BPJS juga perlu terakomodir.
Kelayakan kehidupan sosialnya perlu dirawat. Contoh Sodik yang sampai
rumahnya reyot. “ Kan tidak seharusnya begitu,” tambahnya. Mereka masih layak
dapat apresiasi sebagai pahlawan daerah yang perlu ditampilkan. Baik pada momen
Harjalu ataupun momen lainnya. “ Diajaklah mereka. Di undang dan di libatkan
berdiskusi berbagi pengalaman. Belajar pada mereka. Kalu terjadi mereka akan
merasa senang. Bupati nantinya perlu harus peduli dengan begini-begini ini,”
pungkasnya. (fid/c1/sh)
Sumber ;Jawa Pos(Radar Jember)
Edisi
; 8 Januari 2018

Komentar
Posting Komentar