Di Lampung,
Saya Pernah Diperas Preman Bersenjata Api
Di re modern seperti saat ini semakin banyak
perempuan yang berprofesi ‘keras’. Nur Fatmawati misalnya. Dia nekat jadi sopir
truk, yang bisa muat cabai ke berbagai daerah di Indonesia.
ADI FAIZIN, Ajung
SEKILAS, tidak ada
yang berbeda dari Nur Fatmawati. Pagi itu, ibu muda tersebut tampak sibuk menyiapkan
sarapan untuk putrid tercintanya. Ditemui di rumahnya yang ada di Desa Rowo
Indah, Kecamatan Ajung, Fatma-sapaan akrabnya-dengan telaten mempersiapkan nasi
untuk sang putri.
“ Mumpung
anak lagi dirumah. Karena sekarang liburan sekolah,” tutur Fatma. Sang putri,
Luluk Kamelia memang sedang menempuh pendidikan disalah satu pesantren yang ada
di desa seberang . Adapun anak keduanya, diasuh mantan suami Fatma.
Fatma ini
bukan sekedar ibu rumah tangga biasa.
Perempuan
32 tahun tersebut juga menekuni profesi yang tidak biasa dilakoni perempuan
pada umumnya, yakni sopir truk, dengan spesialisasi komoditas pangan.
“Awalnya
pingin coba membantu pekerjaan suami, ikut merasakan. ternyata berat juga
pekerjaan suami,” tutur Fatma. Profesi
sebagai sopir truk ini dilakoni sejak Fatma menikah secara siri dengan Kasianto
, pria asal Blitar sekitar dua tahun yang lalu.
Dari
Kasianto pula Fatma belajar mengemudikan truk . Tantangan utma mengemudikan
truk adalah harus menyeimbangkan beban yang ada di tangan dan kaki . “Awal-awal
bisa mengemudikan truk , sempat juga si nyenggol. Tapi tidak parah ,” jelas
perempuan kelahiran 15 Februari 1985 ini.
Fatma
bertemu Kasianto saat pria tersebut mengambil cabai di Jember . Hingga kini,
Kasianto masih tinggal di Blitar . Keduanya menjadi patner dalam pekerjaan
mengemudikan truk yang membawa komoditas pangan dari Jember ke berbagai Kota .
“ Paling sering antar ke Jakarta , di Pasar Induk Kramatjati. Pernah juga ke
Mataram dam Palembang,” tutur Fatma.
Bekerja mengemudikan truk yang menganggkut
komoditas memiliki tantangan tersendiri. Sebab, mereka harus bisa mengantarkan
pesanan keluar kota sesuai deadline
yang telah ditetapkan . Jika terlambat beberapa hari, maka pesanan komofitas
itu bisa membusuk di jalan, atau berkurang kesegarannya . Namun disisi lain,
mereka juga tetap harus mengutamakan keselamatan.
“Kalau di
Pantura paling banter kita beraninya Cuma 80 km/ jam. Sepanjang perjalan, tidak
bisa berhenti. Kalau mau istirahat , saya gantia menyetir bersama suami,” jelas
Fatma
.
Tarif jasa
angkut yang ditetapkan oleh Fatma dan suami , bergantung pada jarak tempuh dan
harga komoditas . Sebab cabai dan komoditas pangan lainnya harganya fluktuatif,
bisa berubah setiap harinya. “ Seperti kemarin, kita antar dari Palembang ,
ongkosnya mencaoai Rp 9 juta. Tapi bersihnya yang kita terima Cuma sekitar Rp 2
juta , belum untuk bayar sewa kendaraan,” tutur perempuan yang menimba ilmu di
PPDarulHikmah , Kranjingan,Sumbersari, Jember ini.
Fatma memang
harus menyewa kendaraan kepada salah satu juragan di Tanggul . Sebelumnya, dia
sempat memilili angkutan jenis elf yang biasa digunakan unttik mengantar cabai
. Namun ketika cicilan kendaraannya baru saja lunas , kendaraan tersebut harus
di jual demi biaya pengobatan sang ayah.
“Kendaraan saya sudah dijual untuk opersi sakit syaraf ayah. Tapi baru
tiga hari , ayah saya meninggal . Ya, setidaknya kita sudah berusaha,” kenang
Fatma.
Dalam
sebulan , Fatma dna suami
bisa mengantar pesanan minimal empat kali. Dalam satu kali antar, mereka bisa
meninggalkan rumah selama beberapa hari. Meski demikian, upah yang diterima
menurut Fatma tidak sebesar yang dibayangkan sebagian orang. Pasalnya, sopir
truk kerap kali menjadi korban pemerasan dijalan oleh preman maupun oknum
tertentu.
“Waktu di
Lampung , premannya pakai senjata api , jadi mustahil kita menolak .
Disepanjang perjalanan , ada saja yang memalak, beberapa kali,” keluh putri
pasangan Suprapto (alm) dan Ani Alfiah ini.
Selain
itu, tantangan lainnya adalah ketika ban bocor sedangkan ATM masih jauh . Uang
tunai yang dibawa juga biasanya slalu terbatas. “Karena juragan biasanya kasih
kita uang juga terbatas, mengandalkan pembayaran ditempat tujuan ,” tutur
Fatma.
Dalam
kondisi terjepit seperti itu, mereka biasanya mengandalkan solidaritas sesama sopir truk. “ Kita kasih aba-aba butuh bantuan kalau ada
truk lewat. Biasanya sesama sopir
truk ada solidaritas untuk membantu,” kata Fatma.
Diakui Fatma, sang putri sempat mendapat
cibiran karena pekerjaan ibunya. Namun lambat laun , cibiran itu mulai
berkurang. Profesi sopir truk akan tetap dijalaninya selama belum ada pilihan
lain. “Saya kasih pengertian kepada anak saya. Yang penting kan kerja ibunya
halal,” jelas Fatma
.
Dimata sang putri, Fatma merupakan sosok
yang bertanggung jawab, meski kerap harus meninggalkan
rumah selama beberapa hari . “Ibu sangat perhatian, terutama untuk pelajaran
sekolah,” pungkas Luluk Kamelia, Putri sulung Fatma.(ad/mgc/hdi)
Sumber;Jawa Pos(Radar Jember)
Edisi ;Selasa 2 Januari

Komentar
Posting Komentar