Satu
Gerbong Ada di Museum Malang, Dua Lainnya Di Telusuri
Nama gerbong maut begitu melekat untuk Bondowoso.
Wajar saja, karena di wilayah ini awal mula peristiwa gerbong maut yang
menewaskan banyak pejuang bermula. sayang,
gerbong bekas sejarah itu nggak ada di Bondowoso. Sekarang hanya replika, dan monument saja.
WAWAN DWI SISWANTO,
Bondowoso
TAK afdol jika pas di Alun-lun Bondowoso tidak berfoto di
monument Gerbong Maut ini . Tak heran,monen inilah yanag sering di lakukan oleh
para pendatang, baik
wisatawan atau pengendara yang sekadar beristirahat di Bondowoso.
Peristiwa heroik
(gebong maut) pada 23 November 1947 silam yang menewaskan pejuang ini pun
dilirik PT KAI. Maka, Stasiun Bondowoso yang sudah tak beroprasi lagi, di sulap
menjadi museum.
Satu-satunya museum milik PT KAI di Jatim itu pun
mulai di minati, baik pelajar, mahasiswa, hingga pecinta kereta api. Sayang
penasaran mereka terhadap gerbong asaI
itu belum terpuaskan. “ Sayang belum (gerbong) aslinya. Hanya replika saja,” Ujar Nur Karimah Mahasiswa Universitas Jember
(Unej).
Gerbong barang berwarna abu-abu yang di jadikan replika tersebut juga baru didatangkan ke Stasiun Bondowoso,
tahun kemarin 2017. “Ini gerbong barang asli. Tapi bukan gerbong barang yang
dipakai dalam peristiwa gerbong maut,” terang Kepala Stasiun Kereta Api
Bondowoso, Sugeng.
Dia mengaku, dari tiga gerbong di peristiwa Gerbong
Maut ini, paling jelas keberadaannya masih berada di Museum Brajaya Malang,
dengan nomor gerbong GR10152. Sementara
dua gerbong lainnya (GR5769 dan GR4416) mash di telusuri hingga kini.
Pria asal Banyuwangi ini menjelaskan, memang kondisi
tiga gerbong sejak peristiwa maut itu berbeda. Gerbong GR10152 adalah gerbong
paling baru dari dua gerbong lainnya. Meski baru, justru ada sejarahnya
menewaskan semua yang masuk gerbong berjumlah 38 orang.
Sugeng
menambahkan, salah satu dari dua gerbong maut yang tak teridentifikasi itu
berada di Panarukan,
Situbondo. “ Di Panarukan itu ada gerbong barang yang usianya juga tua. Tapi
nomer gerbongnya tidak jela , karena termakan usia,” imbuhnya. Namun, jika
gerbong itu berbeda bisa jadi gerbong tua di panarukan itu usianya hampir sama
dengan dua gerbong maut tersebut.
Sementara Muhjahid, Ketua Legiun Veteran Indonesia
(LVRI) Bondowoso mengatakan, jejak
peninggalan peristiwa gerbong maut sama sekali tidak ada .Dia menuturkan, di LVRI hanya ada
fotocopy tulisan dari (alm) Singgih pelaku, sekaligus korban peristiwa gerbong
maut. “ Buku tentang gerbong maut secara resmi sajat idak ada. Hanya tulisan tangan dari Singgih saja,”
tambahnya.
Sementara Kepala Dinas PariwisataPemudadan
Olahraga(Disparpora) Harry Patriantono, meski museum itu adalah milik PT KAI,
Pemkab Bondowoso juga berupaya agar
gerbong maut yang asli didatangkan. ”
Pembicaraan tentang mendatangankan gerbong yang asli itu juga pernah
disampaikan PT KAI,”katanya.
Namun, kata Harry, mendatangkan gerbong asli itu
menunggu pengembangan
pembangunan museum itu selesai termasuk fasilitas mendukung perwatan gerbong .”
Ini kan gerbong tua punya nilai sejarah, sehingga perwatannya juga tidak asal ,
termasuk ada fasilitas pendukung,” ujarnya.
Dia menjelaskan gerbong asli yang didatangkan itu bukan dua gerbong yang selama ini menjadi teka-teki
keberadaannya. “Ya gerbong yang ada di museum brawijaya, malang itu di
datangkan,” imbuhnya. Harry pun menegaskan,
terdapat artikel di internet yang menjelaskan salah satu gerbong maut itu di
Bondowoso, dan dijadikan Monumen Gerbong Maut di Alun-alun. Gerbong di
Alun-alun itu replica, terbuat dari semen,” pungkasnya.(wan/hdi)
Sumber :jawa Pos(Radar Jember)
Edisi :Minggu 14 Januari 2018
Disalin
Oleh : KH
Komentar
Posting Komentar