Langsung ke konten utama

Ismatul Maulana, Guru PAUD Merintis Olah Tiwai


Beburu Bahan Kepetani  Desa, Pasarnya Luar Daerah

Tiwai adalah nama tanaman obat. Masyarakat Bondowoso biasanya menyebut bawang-bawangan(Eleutherine Bulbosa). Ada juga yang menyebut Bawang Berlian atau BAwang Dayak. Satu-satunya usaha olah Tiwai ini dirintis Ismatul Maula, guru PUD AL-Haqiqi 2, Poncogati.
     
                                                                                                           SHOLIKHUL,HUDA,Bondowoso

PAGI itu, dua perempuan tengah beraktifitas di sebuah musala di belakang rumah yang berada di Dusun Krajan RT 14, Desa Poncogati, Curahdami. Mereka terlihat merajang sesuatu.

Sekilas, terlihat serat yang dirajang itu seperti bawang dapur. rupanya itulah tiwai atau bawang dayak . Dua perempuan itu adalah Ismatul Maula bersama ibundanya.

Memang, pagi itu PAUD tengah libur. Sehingga ibu empat anak itu, dengan santai mengolah bawang dayak.

Mereka mengupas dan merajang. Setelah di kupas dan di bersihka , bawang itu dirajan . Hasil rajangan itu di jemur dan siap untuk di jual.

Sembari mengolah bawang dayak, Ismatul bercerita awal pengolahan itu di lakukan . dia memastikan , di Bondowoso hanya dirinya yang mengolah bawang dayak . Pengetahuan tentang bawang itu dia peroleh sekitar sebelas bulan lalu . “ Saya di kenalkan oleh teman anak saya yang tidak lain adalah calon menantu,” ujarnya sembari tersenyum.

Karena penasaran, dia akhirnya mencari tahu. Setelah sharing dan mempelajari khasiat bawang tiwai yang bisa menjadi obat herbal penyakit diabetes, darah tinggi dan lain sebagainya, akhirnya dia mencari tahu tanaman tersebut. Rupanya, di beberapa daerah di Bondowoso tanaman ini menjadi hama bagi petani. “Jadi saya menemukan tanaman ini liar, tidak di budidaya, itu hasil temuan saya berburu tanaman di desa-desa yang datarannya agak atas," ujar ibu empat anak ini.

Biasanya petani mengenalnya dengan istilah Weng-bewengan(Bahasa Madura). Dari situ, dia mengedukasi petani . Akhirnya, petani tidak membuang bawang tiwai , namun mengumpulkannya untuk di jual ke Ismatul. Selanjutnya, dia mengolahnya.

Mengenai pasar yang sampai tembus ke berbagai daerah, dia meloakukan pemasaran melalui media  online. Guru PAUD ini juga mengelola website.Rupanya, karena bawang itu didapat dari hunting,banyak yang berminat. “Awalnya pemesan datang dari Jakarta, saya mengirimnya melalui jasa pengiriman ,”ujarnya. Lama-lama, dirinya mendapat pesanan dari Blitar,Tasikmalaya, Kendal, Bandar , Lampung,Nias Selatan , Papua, bahkan sampai ke Malaysia. Semuanya di pesan melalui  online. Pemesan ada yang memesan tiwai sudah di ranjang dan di keringkan, ada juga yang memesan tiwai yang masih basah.” Khusus yang basah, trik kami mengirim tiwai yang masih ada tunasnya , jadi tidak busuk,” terangnya.

Ismatul mengungkapkan , Bawang Dayak ini di cari karena karena khasiatnya . sebab, bias menjadi obat herbal untuk berbagai penyakit. Misalnya kencing manis, asam urat, dan lain sebagainya. Pemakaiannya biasanyadi buat teh. “Jadi, khasiat itulah yang membuat bawang ini harganya menjadi mahal ,” terangnya.

Untuk yang ranjangan kering dan siap  dibuat teh, dia menjual di pasaran dengan hargaRp 150 ribu. Sedangkan yang basah, di bawah Rp 100 ribu. Ismatul juga mengolah tiwai menjadi serbuk. Biasanya dia konsumsi dengan kapsul.Namun, yang serbuk ini biasanya ada pemesan khusus.” Ada pesanan dari warga Kecamatan Ijen, Bondowoso, dia kena kecing manis, saya buatkan serbuk,” paparnya. Rupanya khasiat benar-benar terbukti.

Hanya saja, Ismatul saat ini mengolahnya bersama ibu dan biasanya anak-anaknya. Cita-citanya dia ingin bisa memberdayakan masyarakat di sekitarnya, namun terkendala alat. Dia berharap, usaha yang dirintisnya itu bias berkembangmenjadi pemberdayaan . untuk menuju kearah itu, di butuh kana lat untuk dapat memproduksi lebih banyak. Itu mimpi, Semoga saja tercapai,” Pungkasnya.(mgc/hdi)

 Sumber  ;Jawa Pos(Radar Jember)
Edisi   ;16 Januari 2018

Di Salin Oleh; HK

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MP Picture, Kelompok videografi Jember yang Juara Nasional

          Kameranya Pinjaman, Bisa Bincang dengan Menteri Susi        Jember penuh dengan anak-anak muda kreatif. Sekelompok anak muda menunjukkan prestsi gemilang dengan menjadi juara di berbagai ajang video kompetisi tingkat nasional walaupun mengangkat tema dari local. Modalnya pun pas-pasan. Kamera pinjaman.

Pamsimas, Solusi Konkrit Atasi Krisis Air di Desa Kramat, Sukoharjo, Tanggul

            Sumber Mata Air Jauh, Habis 616 Lonjor Pipa            Tidak semua kelemahan akan selalu melemahakn. Apalagi jikia kelemahan dilawan dengan usaha dan kerja keras. Seperti masyarakat Desa Kramat Sukoharjo, Kecamatan Tanggul, yang tak lagi kekurangan air bersih.

Kisah Keluarga Yang Jadi Pemanjat Pohon Kelapa

                  Kalau Pas Borongan, Satu Pohon Ada 50 Buah   Memanjat kelapa apalagi hingga ketinggian 7-10 meter, perlu memiliki keahlian khusus. Biasanya ini di lakukan oleh kaum adam. Namun, Di Dusun Watukebo, Desa Andongsari, Ambulu ada sekeluarga yang 23 tahun memiliki profesi menjadi pemanjat pohon kelapa ini.                                                                          RANGGA MAHARDIKA-JUMAI , Jember.