Langsung ke konten utama

Kelor, Tumbuhan Kaya Khasiat yang Diolah Jadi Multi Fungsi



                       
              Awalnya Sulit Cari Mitra Lantaran Takut Kutukan 

Masyarakat pedesaan sudah akrab dengan tanaman ini. Banyak dari  mereka menisbahkan tanaman berdaun kecil itu dengan unsur mistis. Lebih sering daun kelor dipakai untuk menjemasi jenasah, bahkan dipercaya sebagai penolak ilmu hitam.


KHAWAS AUSKARNI,Wuluhan
 DI BALIK semua itu, ternyata kelor punya nilai ekonomis dan khasiat yang lebih beragam dari sekadar penangkal ilmu hitam. Di Dusun Demangan , Desa Kesilir, Kecamatan wuluhan  sekelompok warga yang menamakan diri  Kesilir Marongghi Center Communiti(KMCC) berupaya menggali nilai daun kelor-yang bagi masyarakar lain-belum terungkap.

Daun kelor mentah mereka olah menjadi serbuk hijau multifungsi. Serbuk itu bisa di pakai sebgai minuman pengganti teh, campuran tepung kue, dawet dan masih banyak lagi.

Adalah Imam Syafi’i, 40, warga Dusun Krajan , Desa Kesilir yang menjadi pelopor berdirinya KMCC di Kecamatan Wuluhan.

Kegiatanyang dia bangun  bersama sekitar 10 warga Wuluhan lainnya itu bermula dari pelatihan dari  Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Jember pada 2014 terkait pengolahan daun kelor.

Kegiatan itu mebuka mata sejumlah peserta lainnya ihwal berharganya daun kelor. Daun dari tanaman yang kerap hanya dipakai sebagai pagar tanaman, penjaman jenazah , juga penetralisir ilmu hitam.

Serbuk olahan yang dihasilkan komunitasnya dibeli dengan nama kelir. Nama kelir pun, kata dia, punya banyak pemaknaan. Kelir berarti bisa akronim dari daun Kelor Kesilir. Bisa juga berarti warna dalam bahasa Jawa lantaran serbuk itu bisa menjadi bahan pewarna bahan hijau alami.

Menurut khasanah wawasan yang dia peroleh, dalam kelor terdapat kandungan protein yang melebihi susu dan memilki kandungan vitamin C yang lebih tinggi ketimbang dalam jeruk. “ Inilah ampuhnya kelor,” ujarnya.

Tentu saja, ragam kandungan yang penting bagi kesehatan itu juga di iringi oleh potensi pasar yang tinggi. Hanya saja, belum banyak warga sekitar yang ngeh pada keajaiban kelor dari sisi kesehatan.

Hal paling sulit yang pernah di hadapinya adalah ketika mengedukasi warga yang berpandangan buruk pada tanaman kelor.Di daerahnya ada kepercayaan bahwa siapa saja yang mengkonsumsi kelor, maka umurnya tidak bisa panjang. “Karena selama ini di pakai untuk memandikan orang meninggal,” tuturnya.

Kepercayaan lain yang juga mengiringi adalah tidak boleh di perjual belikannya tanaman kelor. Bnyak orang tua yang begitu takut bertransaksi kelor. Meraka percaya,ketika hal itu dilakukan, maka nasib buruk segera menyusulnya.

Kepercayaan terakhir ini sempat bagi bencana bagi KMCC di sektor hulu. Tak sedikit warga pemilik lahan yang diajak bermitra menolak mentah-mentah lantaran takut kutukan.

“Mereka kami tawari kerja sama untuk menanami lahannya dengan kelor, tapi menolak. Takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” terang Imam.

Perjuangan membalik paradigma miring tersebut berlangsung dalam waktu yang lama. Namun, angin segera lekas berhembus setelah banyak warga khususnya kalangan muda mulai tercerahkan. “Akhirnya ada mitra kami yang mau menanam. Kurang lebih ada 2 hektare laha kelor yang rutin menyuplai untuk kelir,” kata dia.

Kelor yang sudah di proses dan siap pakai bisa di hargai Rp 250 per kilo gramnya. Pdahal, harga daunkelor mentah dari petani hanya dua ribu per kilogram. Namun, hrga dua ribu perkilogram itu dalam kondisi daun bercampu gagang. “ Proses pertama adalah pengeringan,” ujarnya.

Imam menjelaskan, satu kilogram daun bercampur gagang itu juga di keringkan hanya akan menjadi 70 hingga 100 gram daun kelor  kering siap proses. Setelah di proses menjadi Serbuk kelor kuantitasnya menyusut menjadi tidak kurang dari 8 persen dari satu kilogram kelor basah yang masih bergagang.

Proses pemasaran serbuk kelor kelir yang di hasilkan  oleh pegiat KMCC masih sebatas jaringan perkenalan. Mereka belum bisa merambah toko-toko konvesional lantaran kendala per ijinan. “ Sebenarnya toko-toko yang kami tawari berminat.Tapi mereka segan membeli lantaran belum ada ijinnya,” katanya.

 Sebernarnya sejak Oktober kemarin, Imam berupaya mengurus per ijinan PIRT produk kelir kekantor PTSP Kabupaten Jember. Namun, hingga detik ini izin itu belum kunjung rampung. (was/mgc/hdi)
Sumber  ;Jawa pos (Radar Jember)
Edisi      ; Kamis 18 Januari 2018

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MP Picture, Kelompok videografi Jember yang Juara Nasional

          Kameranya Pinjaman, Bisa Bincang dengan Menteri Susi        Jember penuh dengan anak-anak muda kreatif. Sekelompok anak muda menunjukkan prestsi gemilang dengan menjadi juara di berbagai ajang video kompetisi tingkat nasional walaupun mengangkat tema dari local. Modalnya pun pas-pasan. Kamera pinjaman.

Pamsimas, Solusi Konkrit Atasi Krisis Air di Desa Kramat, Sukoharjo, Tanggul

            Sumber Mata Air Jauh, Habis 616 Lonjor Pipa            Tidak semua kelemahan akan selalu melemahakn. Apalagi jikia kelemahan dilawan dengan usaha dan kerja keras. Seperti masyarakat Desa Kramat Sukoharjo, Kecamatan Tanggul, yang tak lagi kekurangan air bersih.

Kisah Keluarga Yang Jadi Pemanjat Pohon Kelapa

                  Kalau Pas Borongan, Satu Pohon Ada 50 Buah   Memanjat kelapa apalagi hingga ketinggian 7-10 meter, perlu memiliki keahlian khusus. Biasanya ini di lakukan oleh kaum adam. Namun, Di Dusun Watukebo, Desa Andongsari, Ambulu ada sekeluarga yang 23 tahun memiliki profesi menjadi pemanjat pohon kelapa ini.                                                                          RANGGA MAHARDIKA-JUMAI , Jember.