Biar Awet, Jaga Tradisi Lewat arisan Macapat
Seorang maestro
kesenian rupanya tak perlu bergelar tinggi. Seorang pria tua putus sekolah pun
sepertinya juga layak di sebut maestro Macapat. Seperti Mahat, yang sehari-hari
penarik becak
RULLY
EFFENDY, Sumbersari
MAHAT dikenal hanya sebagai tukang becak. Setiap harinya, becak tua dia
kayuh mengantar para penumpang langganannya. Namun, bagi sebagian orang, pria
yang tinggal di Lingkungan Pelindu RT 2, RW 14, Kelurahan Karangrejo,
Sumbersari, ini sangat di segani.
Dia dinilai memilki keahlian Rokat, sebuah
istilah Madura yang memilki arti sama dengan Ruwatan. Ini merupakan ritual
kebudayaan lawas untuk meminta keselamatan. Budaya Rokat memang tidak sepopuler
dulu.
Tapi, masih ada saja orang yang meminta
bantuan mahat.
Selain ahli Rokat, Mahat rupanya juga jago
Macapat. Dia salah satu pembaca Macapat tertua di Jember. Keahlian bermacapat
dia terima dari ayahnya, Mi’an alias Pak Busian. Sebelum ahli macapat disandang
ayahnya, kakek almarhum Misdin, bahkan lebih jago Macapat.
Mencari rumah Mahat juga tak sulit. Sekitar
200 meter sebelah selatan komplek Perumahan Puri Bunga Nirwana, ada rombogan
penjual mie. Nah, tanya keppenjual mie itupun pasti tahu, karena dia adalah
salah satu anak mahat . namun, saat kerumahanya harus diwaktu yang tepat.
Sebab, hanya pada waktu salat dia pulang.
Dirumah tukang becak kelahiran tahun 1943
itu sulit sulit menemukan barang mewahg. Namun, ada kotak palstk yang
diletakkan di tempat pilihan. Dalam kotak, isinya hamper sama seperti buku
tulis anak SD. Di beri sampul coklat. Namun, saat dibuka tulisannya sulit
dibaca.
Meski buku itu hanya ala kadarnya, namun
dinilainya paling sacral. Banyak ajaran filosofi hidup didalamnya. Dia menyebut
buku itu “Catur Nur Buat”. Buu itu berisi huruf Pegon. Sebuah huruf Arab yang
dimodifikasikan untuk menuliskan bahasa Jawa.
Buku itu ditulis sendiri oleh Mahat.
Kemudian dia perbanyak dengan foto copy. Meski ditulis sendiri, dia tentu tak
boleh ngawur. Harus ada refrensi sebelumnya. Seperti turun temutun dari almarhum
ayahnya yang sebelumnya juga diterima dari kakeknya.
Catur Nur Buat ini jadi bahan bacaan saat Mahat
menggelar ritual Macapat. Meski hanya dengan tulisan sekadarnya, namun siapa sangka, aksi Mahat baca Macapat mampu buat
orang terhipnotis.
Mendengarnya mampu membuat bulu kuduk
merinding. Mahat membacanya dengan nada. Seperti orang sedang qiroah. Tapi yang
dilafalkan bukan bacaan ayat berbahasa Arab. Melainkan pesan bebahasa Jawa
Kuno.
Meski berbahasa Jawa Kuno, namun masyarakat
Madura pasti tahu maksud bacaannya. Karena setiap pembaca Macapat didampingi
seorang penerjemah bahasa Madura. “ Semua bacaannya mengandung arti pesan untuk
kebaikan,” ujar Mahat.
Macapat memang tak begitu popule rseperti
saat masa remaja Mahat. Namun, Macapat harus tetap ada supaya eksistensinya
terjaga. Mahat pun berinisiatif membentuk arisan Macapat.
Arisan Macapat digelar seminggu sekali.
Setiap selasa malam, mereka bergiliran datang kerumah anggotannya. Rumah yang
di kunjungi sesuai hasil kocokan. Para tuan rumah tak perlu menyediakan sajian
mewah. Meski demikian, diakuinya selalu ada konsumsi. “ Ada iuran untuk tuan
rumah. Setiap orang Rp 50 ribuan,” akunya.
Saat ini, sudah ada 52 anggota arisan.
Meski jumlahnya cukup banyak, namun yang bisa macapat ternyata tak lebih dari
10 orang. “ Selama masih ada saya, Macapat harus tetap ada,” tegas Mahat.
Keinginan itu ternyata disambut baik para
aktivis Dewan Kesenian Jember (DKJ). Bahkan, ketua DKJ Eko Suwargono sudah
berniat mendirikan sekolah Macapat. “ Sederhananya, ada ahli Macapat yang jadi
gurunya, sedangkan muridnya anak-anak muda Jember,” jelasnya.
Selain itu, untuk menjaga eksistensi
Macapat di Jember, pelaku Macapat harus sering
di undang tampil di acara-acara tertentu pemerintahan. Sehingga, semangat
menjaga eksistensi bisa seiring dengan ketertarikan orang lain untuk
mempelajarinya.
“Apalagi, Pak Mahat di nobatkan jadi
maestro pelestari kesenian oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jember di tahun
2017 lalu,” pungkasnya. (rul/mg/hdi)
Sumber :Jawa Pos (Radar Jember)
Edisi : Selasa 23 Januari 2018
Komentar
Posting Komentar