Sudah Bikin Ratusan Tulisan, Berkali-kali Menang Lomba
Menulis adalah kata yang mudah di
ucap, namun sulit diterapkan. Pun bagi kalangan guru yang setiap harinya tidak
lepas dari buku. Namun, hal itu tidak berlaku bagi Mahrus Hasan. Di sela-sela
kesibukannya, produktifitas menulisnya tidak luntur. Bahkan, semakin berkembang.
SHOLIKUL HUDA, Bondowoso
PAGI di temani
kopi, menjadi salah satu ciri khas masyarakat Bondowoso. Sebab itulah,
kabupaten ini di beri plakat Republik Kopi. Suasana inilah yang tergambar pagi
itu di rumah M. Mahrus Hasan, yang berada di Komplek Ponpes nurul Ma’rifah,
Poncogati, Kecamatan Curahdami.
Secangkir kopi pagi terhidang diantara diskusi gayeng.
Apalgi, orang ini suka membaca dan menulis. Siapapun orang yang berkunjung
kerumahnya, bisa di pastikan akan menjustifikasi M.Mahrus sebagai orang yang
suka menulis. Sebab, karya tulisannnya yang dikirim keberbagai media cetak di
pajang dengan bingkai menarik. Hal itu pula yang di lakukan M Mahrus
denganberbagai karyanya yang telah di terbitkan Jawa Pos Radar Jember.
“ Saya bangga bisa terus menulis, bagi saya ini berkah,”
ungkap ayah dua anak ini.
Terbaru, dua karyanya terpilih menjadi juara. Pertama, Juara
1 Lomba Menulis Artikel dengan teman Hari Santri Nasional. Lomba ini diadakan
Komunitas Penulis Institut Agama Islam Cipasung (IAIC). Kedua, tulisannya
terpilih dalam lomba menulis karangan naratif
yang diadakan Diva Press Jogjakarta.
Baginya, penghargaan itu bukan kali pertama. Sudah banyak
penghargaan yang di perolehnya. Baginya,
bukan penhargaan yang membuatnya puas. Namun, lebih pada proses yang dia lalui.
“ Saya pernah menjadi presenter Internasional Conference of Pesantren 2016
karena tulisan,” ungkap pria kelahiran 14 April 1977 ini.
Perjalan menajdi presenter itu menjadi pengalaman menarik.
Sebab, dia menjadi salah seorang yang terpilih dari sekian banyak nominator.
Pelaksanaan International Conference of Pesantren itu di gelar di UIN Malik
Ibrahim, Malang.
Kepiawaian Mahrus dalam menulis rupanya sudah muncul sejak
SMA. Dia menempuh pendidikan menengah atas di MAK Nurul Jadid, Paiton. Karena
suka dalam hal tulis-menulis, akhirnya dia meneruskan pendidikan di UIN Sunan
Kalijaga, Jogjakarta. Mahrus menempuh Fakultas Dakwah, Jurusan Komunikasi dan
Penyiaran Islam (KPI). “Saya suka menulis, karenanya saya menempuh jurusan yang
ada hubungannya dengan jurnalistik,” terangnya.
Di meja kuliah, segala macam media siar, cetak, atau
elektronik pernah di pelajari dan di ppraktekkan. Hanya saja, saat kembali
kedunia nyata alias lulus kuliah, dunia jurnalistiknya sempat meredup.
Ditataran pekerjaan, Mahrus ditakdirkan menjadi PNS di bidang guru agama. “
Saya tersesat jalan yang benar,” selorohnya.
Mahrus bercerita, keinginannya menulis timbul kembali saat
dirinya menjadi Waka Humas di MTSN 2 Bondowoso. Saat itu,dirinya bingung apa
yang harus dilakukan. “ Saya pikir, masak saya hanya meng-upload kegiatan di FB,
mengatur home visit, rapat-rapat, dan
menerima tamu atau kunjungan saja? Harus ada yang baru, yakni menulis,”
paparnya.Terobosan baru itu menjadi hal baru yang memberikan banyak pencerahan.
Dalam setahun, ada puluhan karya tulisnya yan di muat di berbagai media. Selain
itu, karyanya juga banyak ‘menelurkan’ penghargaan juara dalam berbagai lomba.
Salah satunya pada 2017 lalu, atas prestasinya di bidang
penulisan, dirinya terpilih Kemenag Bondowoso menjadi Guru Teladan 2017. Dia
pun akhirnya berangkat ke Kemenag Provinsi untuk mengikuti ‘Kompetisi Guru,
Kepala RA/ Madrasah, dan Pengawas Madrasah Berprestasi Tahun 2017’.
Sebelum keprovinsi, ada penyaringan dari kabupaten. Dari
seluruh peserta dipilih 19 orang dan masih disaring menjadi 8 orang. Mahrus
saat itu lolos dan di undang untuk mengikuti kompetisi tingkat provinsi. “ Dan
saya banyak mendapat pengalaman dalam kompetisi tersebut,” ungkapnya.
Menariknya, Mahrus punya kebiasaan untuk menyimpan
tulisan-tulisan secara rapi di pigura-pigura. Bahkan, dia bermimpi bisa membuat
tempat khusus untuk memajang tulisan-tulisan tersebut. Sehingga, ada semacam
ada semacam ‘Rumah Tulis’. “ Saya pikir tulisan-tulisan itu juga berhak di
pajang, bukan hanya foto dan lukisan yang selama ini banyak di pajang.
Sehingga, ada motifasi bagi siapapun yang melihat,” pungkasnya. (mgc/hdi)
Sumber : Jawa Pos (Radar Jember)
Edisi :Minggu 28 Januari 2018
Komentar
Posting Komentar