Tekanan Kerja berbeda
dengan Bandara Besar
Dibalik lalu lintas penerbangan,
terdapat salah satu profesi yang punya peran vital di setiap bandara. Profesi
itu adalah Air Traffic Controller (ATC) atai Pemandu Lalu Lintas Udara. Di
Bandara Notohadinegoro, terdapat setidaknya dua orang petugas tetap ATC yang
bertugas memandu lalu lintas pesawat agar bisa terbang dan bisa mendarat dengan
selamat.
KONSENTRASINYA
tampak terlihat di raut muka seorang gadis mudaseorang gadis muda
berjilbab. Dari ruang kerjanya, dengan terampil dia mengendalikan seperangkat alat komunikasi untuk memandu
keberangkatan sebuah pesawat dari Bandara Notohadinegoro, Jember. Konsentrasi
memang dibutuhkan, sebab di pundaknyalah, tanggung jawab untuk memandu keberangkatan dan kedatangan
pesawat di Bandara, di bebankan.
“Alhamdulillah,
saya enjoy kerja di Jember. Kotanya
asyik, banyak destinasi wisata,” tutur Ef Hayyu Rengganis, nama petugas air traffic controller (ATC) yang
bertugas di Bandara Notohahadinegoro.
Dara yang berjilbab yang akrab disapa Gandis ini memang bukan
asli jember.
“Saya lulus pendidikan tahun 2014. Lalu beberapa bulan
kemudian, diawal 2015, saya akhirnya bergabung sebagai tenaga ahli ATC di
Bandara Notohadinegoro,” tutur gadis asal Jombang ini. Selain Gendis, Bandara
Notohadinegoro memilki seorang petugas ATC lain bernama Dhefin Firtian
Shastrena. Mereka kebetulan sama-sama berasal dari Kabupaten Jember dan lulusan
dari kampus tenaga penerbangan, Akademik
Teknik dan Keselamatan (ATKP) Surabaya, yang kini berganti nama menjadi
Poltekbang Surabaya.
Di dunia pedidikan dirgantara Indonesia, ATKP Surabaya
menjadi kampus terbesar kedua di Indonesia, setelah induknya, yakni STPI Curug,
Tangerang Banten. Total terdapat empat perguruan kedinasan penerbangan yang ada
di bawah Kementrian Perhubungan. Bukan hal mudah untuk masuk kesekolah
kedinasan tersebut. “Waktu saya mau masuk, ada sekitar pendaftar yang daftar di
Surabaya,tapi mereka juga di distribusikan ke 3 kampus lain. Angkatan saya yang di terima sekitar 180 orang,” jelas Gendias.
Di Bandara Notohadinegoro Jember, Gnedis dan Dhevin berstatus tenaga honorer kontrak dibawah
Dinas Perhubungan Kabupaten Jember. Mereka memandu pilot mulai dari start
engine hingga pendaratan kembali, termasuk diantaranya menginformasikan cuaca
di bandara sebelum pesawat mendarat. “ Di sini ada 4 kali Movement (pergerakan
), yakni2 Landing dan 2 take-off,” tutur Gendis.
Selain dengan pilot, petugas ATC juga berkomunikasi dengan
ATC yang ada di Bandara Juanda, Sidoarjo dan Bandara Soekarno-Hatta. Keduanya
bergantian mengatur lalu lintas pesawat, dengan sistem libur 3 hari kerja dan 1
hari libur. Berbeda dengan bandarayang lebih besar, petugas ATC di Bandara
Notohadinegoro bekerja dari pukul 07:00 hingga pukul 15:00 WIB. “Karena Cuma
gantian berdua, jadi bagi waktu liburnya relatif fleksibel,” putri pasangan
Nurhadi dan Nasikatin ini.
Bekerja di bandara perintis seperti Bandara Noto hadinegoro,
menjadi pengalaman baru bagi Gendis. Sebelumnya, saat masih kuliah, gadi berkacamata ini sempat dua
kali menjalani magang di dua bandara Internasional Sam ratulangi di Manado dan
Bandara Samarinda di Kalimantan Timur. “Waktu awal kerja disini sempat kage
juga ya. Bandara kok di tengah sawah. Terus waktu itu juga belum ada peralatan
desk control yang lengkap. Jadi benar-benar mulai dari nol,”jelas Gendis.
Selama tiga tahun bekerja sebagai tenaga ahli ATC di Bandara
Notohadinegoro, Gendis meraskan banyak peningkatan dari sisi kelengkapan
peralatan dan tegnologi pengembangan
dibandara. Dia juga mulai merasa nyaman bekerja di Jember. “ Karena operating hours ( jam kerja) nya Cuma
sampai sore, jadi kita banyak waktu untuk mengekplorasi keindahan Jember. Ada
banyak waktu luanglah, “tutur alumnus SMAN 2 Jombang ini.
Dibanding kota asalnya, yakni Jombang, Gendis menilai Jember
terasa lebih dinamis perkembangannya. “ Kebetulan saya punya banyak teman
sekolah yang tinggal di Jember. Biasanya kita suka nongkrong di daerah kampus,
karena banyak kafenya yang asyik-asyik. Atau jalan-jalan kepantai Papuma,”
tutur gendis sembari tersenyum.
Selama tiga tahun bekerja di Bandara Notohadinegoro, salah
satu pengalaman paling berkesan bagi Gendis adalah bertugas memandu pesawat
yang membawa rombongan Presiden Joko Widodo dalam rangka kunjungan kerja ke
Jember. “Wakti itu pengamanannya super ketat, banyak tentaranya dan penerbangan
yang lain harus di-hold dulu. Untuk take-off control, tetapi kita yang
pegang, tapi dapat perbantuan dari Lanud Abdul Rachman saleh, Malang (TNI AU)
dari Air Nav, Juanda,” kenang Gendis.
Dari berbagai suka duka selama tiga tahun bekerja di Jember,
satu harapan yang masih menjadi tanda tanya bagi Gendis dan juga rekannya,
adalah terkait status keepegawaian mereka. “ Kita berdua masih honorer tenaga
ahli, yang kontraknya di perbarui di setahun sekali di akhir tahun. Semoga saja
kita bisa menjadi PNS,” harap Gendis.
Selain Gendis, terdapat dua petugas yang bekerja di ruang
ATC, saat disambangi oleh Jawa Pos Radar Jember. Mereka adalah
Kumala Dwi Mayang Sari dan Muh Deny Saputra, keduanya berasal dari Perum Air
Nav BUMN yang beroperasi di bidang nafigasi udara. “ Gita bertugas untuk
familirisasi untuk proses diambil sepenuhnya,” jelas Kumala.
Sebagai mana di ketahui, saat ini Bandara Notohadinegoro
sedang dalam proses penagmbil alihan dari Pemkab Jember ke PT Angkasa Pura (AP)
2 dan juga Perum Air Nav untuk bagian Nafigasi. Namun Kumala dan Deni hanya
bertugas temporer di Jember, yakni selama 10 hari. Sehari-hari mereka bertugas
di Bandara Juanda, Surabaya.
Seperti halnya Gendis, Kumala dan Deni juga lulusan ATKP
Surabaya. Di Bandara Notohadinegoro, keduanya
memilki tugas yang berbeda. “ Saya di komunikasi penerbangan, antara
lain mengurusi pengiriman flight plan (rencana
penerbangan). Tampa flight plan,
pesawat tidak akan bisa terbang,” tutur Kumala.
Meski jadwal penerbangan sesuai ijin rute, ada beberapa
kodisi yang membuat penerbangan menjadi tertunda.” Antara lain karena cuaca
atau kebijakan maskapai tersebut. Sesuai aturan, flight plan dikirim paling lambat 120 menit sebelum pesawat
berangkat,” jelas ibu satu anak ini.
Adapun Deni berposisi Air
Traffic service (ATS) Engineering. Tugas utama ATS Engineering adalah bertanggung jawab terkait
alat kominkasi dan nafigasi antara ATS dengan pilot. “ Saya juga sebenarnya
menangani masalah surveillance dan automation. Tapi disini belum ada,
contohnya seperti radar yang ada di Juanda, disini kan belum ada,” tutur Deni.
Sebagai bandara
perintis yang, asih berstatus AFIS (Aerodrome
flight information service), Bandara Notohadinegoro belum memilki radar
kontrol. “ Tapi nanti kalau sudah naik statuske ADC (Aedrome control),wajib memilki radar,” tutur alumnus ATKP Surabaya
angkatan tahun 2011 ini.
Untuk naik status sehingga bisa menjadi embarkasi haji, ada
beberapa syarat yang harus di penuhi Bandara Notohadinegoro. Selain perluasan
lahan yang kini sedang dalam proses, pengelola Bandara Notohadinegoro nantinya
juga harus menyediakan tower. Harganya pun tidak main-main. “ Sekitar Rp 30
miliar,” ucap Deni.
Dari beberapa kali
rapat yang di ikutinya di Dirjen Perhubungan Udara Kemenhub, Deni optimistis
proses itu akan bisa di penuhi pengelola bandara Notohadeinegoro. “ Saat ini
saja, hampir setiap hari seat yang ada selau penuh. Juga kemarin
presiden Jokowi juga berjanji menggelontarkan dana Rp 308 miliar untuk membantu
Bandara Notohadinegoro ini,” pungkas pria yang sudah 7 tahun berkarier di Perum
Air Nav ini. (ad/c1/sh)
Sumber : Jawa Pos (Radar Jember)
Edisi :
22 Januari 2018

Komentar
Posting Komentar