Langsung ke konten utama

Mereka yang Mengambil Untung dari Tumpukan Sampah




Hidung Kami Sudah Kebal dengan bau Busuk Sampah

Siapapun tahu sampah adalah barangf sisa yang jorok. Sampah menjadi sisa aktifitas kehidupan yang hanya pantas dibuang. Namun, siapa sangka, sekelompok manusia justru bias mengambilmanfaat dari sampah-sampah itu.

KHAWAS AUSKARNI, Pakusari 


ADA aktivitas ekonomi diatas puncak gunungan sampah di TPA Pakusari, di Dusun Lamaran, Desa Kertosari. Puluhan manusia menggatungkan keberlangsungan hidupnya pada sampah bekas yang bagi kebanyakan orang begitu menjijikan.

Namun, Amsari,50, perempuan yang 20 tahun lebih bekerja sebagai pengais sampah di TPA Pakusari mengaku, mampu melampau rasa jiiknya saat beradadi hamparan sampah yang menyengat baunya. Hidup selera perutnyas seolah sudah kebal dengan bau busuk sampah yang di padu dengan kepungan pasukan lalat.

Tiap pagi, Amsari bersama dengan para pengais sampah lainnya datang ketempat pembuangan sampah Pakusari. Dia dan teman-teman se profesinya baru berenjak pulang saat matahari mulai turun di ufuk barat.

Diatas ketinggian sampah itu, puluhan pejuang sampah itu membangun gubuk-gubuk kecil yang hanya beratap namun tak berdinding. Di gubuk itulah mereka mengumpulkan sampah hasil pungutan mereka lantas memilihnya. Tentunya, gubuk-gubuk itu juga mereka fungsikan untuk berlindung dari panas dan hujan. “ Saya hanya ambil yang plastik saja. Hanya itu  yang laku di jual,” ujar Amsari.

Satu kilogram sampah plastic akan laku di jual Rp 300. Tumpukan sampah kehidupan manusia yang baginya justru menjadi sumber penghidupan keluarga. Rata-rata, tiap hari 15 hingga 20 kilogram sampah plastik berhasil dia kumpulkan. Jumlah sebanyak itu dia dapat melalui kerjasama dengan suaminya, Gimin,55.

Suaminya ini lebih lama beberapa tahun menjadi pengais sampah ketimbang Amsari. Sepanjang itu pula mereka bekerja dengan cara yang sangat sederhana tampa memperhatikan keselamatan.
 Tak ada penutup hidung dari sengatan sampah. Satu-satunya alat yang mereka andalkan hanyalah pengait sampah dari besi. Saat yang paling menggangu adalah ketika musim pengujan. Sampah yang dari awalnya memang menyengat, akan semakin menyengat saat terpapar hujan. Lalat-lalatpun lebih ramai berdatangan.

Bagi Gimin, Amsari, dan para pengais sampah  di TPA Pakusari, berkubang dengan sampahmenjadi satu-satunya peluang kerja yang bias mereka lakoni. Untuk berladang seperti masyarakat kelas bawah lainnya tak mungkin mereka lakukan lantaran tak memilki lahan.

Bagi pihak TPA Pakusari, keberadaan para pencarai rezeki di atas tumpukan sampah itu ibarat simbiosis mutualisme. Selain sampah-sampah itu akan membuat dapur mereka tetap mengepul, dalam bentuk yang beda, ada dapur-dapur lain yang akan terus mengepul dari sampah itu. Bagaimana tidak, jenis sampah anorganik yang mengganggu bagi proses pengolahan selanjutnya justru di punguti dan laku di jual oleh warga yang membutuhkan.

Masbud, Koordinator Pengolahan Sampah TPA Pakusari menuturkan, sejak 2017, pihaknya memanfaatkan sampah organic sisa rumah tangga, seperti nasi, sayuran dan yang lainnya menjadi bahan pembuat gas metan sebagai bahan bakar rumah tangga pengganti gas  elpiji. Sementara, sampah plastik tidak terpakai pada proses itu.

Saat ini ada 20 KK yang sudahterinstalasi saluran pipa gas metan dari TPAPakusari. Konversi sampah organik menjadi gas metan sebenarnya sudah sejak lama dilakukan oleh TPA Pakusari. Hanya saja, sebelum di bangun pipa-pipa penyambung kerumah-rumah warga, gas metan itu di buang keudara.

Pemanfaatan gas metan sebagai pengganti elpiji tentu saja cukup menghemat pengeluaran rumah tangga. Umumnya, kata dia, pemakaian elpiji ukuran 3 Kg seharga Rp 18 ribu untuk keperluan dapur habis dalam lima hingga tuju hari. Sementara, saat mengguanakan gas metan yang di distribusikan TPA Pakusari, mereka bisa mendapatkan secara gratis dalam jumlah yang nyaris tidak terbatas.

Rencananya, tahun ini akan di lakukan pemasangan 50 pipa baru pada warga yang belum kebagian. Sehingga, total ada 70 KK yang rencananya bakal teraliri pipa gas metan dari TPA Pakusari. (wah/mgc/hdi)
Sumber  : Jawa Pos (Radar Jember)
Edisi        : Rabu 31 Januari   2018

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MP Picture, Kelompok videografi Jember yang Juara Nasional

          Kameranya Pinjaman, Bisa Bincang dengan Menteri Susi        Jember penuh dengan anak-anak muda kreatif. Sekelompok anak muda menunjukkan prestsi gemilang dengan menjadi juara di berbagai ajang video kompetisi tingkat nasional walaupun mengangkat tema dari local. Modalnya pun pas-pasan. Kamera pinjaman.

Pamsimas, Solusi Konkrit Atasi Krisis Air di Desa Kramat, Sukoharjo, Tanggul

            Sumber Mata Air Jauh, Habis 616 Lonjor Pipa            Tidak semua kelemahan akan selalu melemahakn. Apalagi jikia kelemahan dilawan dengan usaha dan kerja keras. Seperti masyarakat Desa Kramat Sukoharjo, Kecamatan Tanggul, yang tak lagi kekurangan air bersih.

Kisah Keluarga Yang Jadi Pemanjat Pohon Kelapa

                  Kalau Pas Borongan, Satu Pohon Ada 50 Buah   Memanjat kelapa apalagi hingga ketinggian 7-10 meter, perlu memiliki keahlian khusus. Biasanya ini di lakukan oleh kaum adam. Namun, Di Dusun Watukebo, Desa Andongsari, Ambulu ada sekeluarga yang 23 tahun memiliki profesi menjadi pemanjat pohon kelapa ini.                                                                          RANGGA MAHARDIKA-JUMAI , Jember.