Ajari Ibu Muda Buat MPASI Tanpa Bahan
Kimia
Menjadi
ibu muda terutama yang memiliki anak pertama biasanya di pusingkan dengan
memilih Makanan Pendamping Air Susu Ibu
(MPASI). Apalagi, kadang anak tidak cocok
dengan MPASI pabrikan yang harganya mahal. Namun , Komunitas MPASI Homemade yang bergerak di bidang sosial
ini membantu ibu muda membuat MPASI sendiri dengan makanan di sekitarnya .
RANGGA
MAHARDIKA, Jember
SEBAGIAN orang mungkin menganggap
makanan pendamping ASI yang di berikan kepada anak usia 6-24 bulan adalah
sesuatau yang di sepelekan . Padahal , usia tersebut adalah masa krirtis dan menentukan untuk tumbuh kembang bayi
kedepannya. Sehingga seharusnya di berikan sejumlah makanan dengan gizi tinggi
dan yang di sukai oleh anak.
Namun, dalam perkembangannya banyak sekali produk MPASI yang disediakan oleh
perusahaan makanan tida bisa memenuhi hal tersebut, utamanya yang di sukai
anak-anak. Apalagi, dengan harga yang mahal biasanya orang tua langsung
memberikan makanan orang dewasa kepada bayi.
Padahal, hal ini tidak seharusnya di
lakukan. Bermula dari kegalauan ini kemudian muncul komunitas MPASI ini . “Ibu muda rata-rata
bingung memberikan MPASI kepada anak,” jelas Luthfiatul MArdiyah , pendiri
sekaligus Ketua MPASI Homemade yang biasanya di panggil BunQueen ini. Banyak
sekali anak yang ternyata tidak cocok dengan MPASI tersebut dan akhirnya malah
tidak bisa mendapatkan asupan makanan bayi yang baik.
“Sering juga malah kerepotan karena anak
melakukan gerakan tutup mulut. Kan semakin
susah memberikan makanannya,” jelas ibu dari Shaqeena Maryam Fatahillah ini.
Pengalaman seperti ini juga di alaminya dan kemudian menimbulkan keprihatinan bagi
alumni dan yang pernah bekerja di Akademi Farmasi Jember. Sehingga, dirinya
mencoba mencari tahu tentang MPASI yang murah namun bergizi.
“Bahan-bahan prinsipnya dari yang ada di
sekitar , sehingga bisa mempermudah bunda mneyediakan MPASI,” jelas perempuan
cantik kelahiran Jember 1 Agustus 1992
silam ini. Dirinya banyak berkonsultasi dengan para ibu melalui media sosial .
lalu mereka pun membuat komunitas yang membahas seluk beluk MPASI ini dengan
berbagai resep dan cara menyediakan MPASI.
“Sejak pertama di bentuk 10 September2017,
sudah ada puluhan resep yang terkumpul,” jelasnya. Berbagai resep makanan ini
di sesuaikan dengan umur bayi agar lebih optimal mendukung perkembangan bayi.
Biasanya , untuk umur 6-8 bulan dengan di kukus, usia 9-11 di panggang dan baru
diatas 12 bulan ada yang di goreng.
Selain itu, komunitas ini juga mengajarkan
cara memberikan MPASI kepada anak sehingga bisa lebih menarik perhatian anak.
Di awali dengan menyuapi , lalu ada Babi
Led weaning yakni memberikan kebebasan anak makan sendiri . “ Ada juga
kombinasi , selain di suapi juga makan sendiri melatih kemandirian ,”
jelasnya..
Bukan hanya untuk kelompoknya saja, MPASI
Homemade ini pun juga memberikan edukasi kepada masyarakat sekitar sehingga
paham memberikan MPASI. Selain itu, juga sering dalam sosialisai ini juga
mendatangkan tenaga ahli , seperti dokter umum, dokter anak, ahli gizi bahkan
juga dokter spesialis gizi.
Biasanya kegiatan meet up ini dilakukan di
sejumlah posyandu di daerah pinggiran. Kegiatan ini awalnya dilakukan sebanyak
3 bulan sekali. “ Namun karena banyaknya permintaan, akhirnya sebulan sekali ,”
jelasnya. Pihaknya pun berharap banyak ibu muda
yang tidak lagi kesulitan bahkan bisa menularkan ilmunya kepada ibu-ibu
lainnya. Sehingga, dirinya berharap tidak ada lagi anak-anak bayi yang kekurangan gizi apalagi sampai gizi
buruk.
Selain memberikan sosialisasi ternyata
komunitas ini juga ada ibi-ibu yang memproduksi
MPASI untuk bayi tanpa bahan kimia. “Seperti kaldu homemade yang tanpa MSG (Mnosodium Glutamat).Sehingga MPASI bayi bisa
gurih, “ jelasnya . Dengan demikian, dapat memberikan makanan bergizi kepada
anak tanpa takut anaknya kemasukan bahan kimia.
Setelah semakin berkembang dan terkenal,
kini anggota MPASI Homemade ini sudah
mencapai 178 orang . Bahkan, bukan hanya ibu-ibu dari Jember saja yang banyak bergabung. Tetapi juga ada dari
seluruh eks Karesidenan Besuki ,
Pasuruan, Bali, dan Jabodetabek pun ada. Mereka membentuk chapter sendiri diwilayahnya dan melakukan kegiatan yang sama
seperti yang di lakukan di Jember.
Pihaknya berharap kedepan tidak ada lagi
anak yang kekurangan gizi karena salah memberika MPASI dan kesalahan dalam
memberikan kepada anak . Sehingga, anak Indonesia semakin sehat dan menjadi
generasi unggul untuk kedepannya.(mgc/hdi)
Sumber ; Jawa Pos (Radar Jember)
Edisi ;Sabtu 20 Januari 2018
Komentar
Posting Komentar