Anak Buruh
Tani yang Termotifasi ubah nasib Keluarga dengan kuliah
Banyak cerita menatik masing-masing
lulusan terbaik Polije yang wisuda hari ini. Mereka beralal dari jenjang dan program studi berbeda. Mulai dari
mahasiswa tertua, juga anak buruh tani yang memilki asauntuk membalik kehidupan
ekonomi keluarganya.
ADI FAIZIN,Jember
SENEN. Begitulah namanya, cukup singkat. Senyum dan ekspresi rasa syukur
selalu mengembang diwajahnya saat berbincang dengan Jawa Pos Radar Jember di
sela-sela prosesi gladi kotor jelang prosesi wisuda XXXII Politeknik Negeri Jember.
Bukan
sekadar lulus. Pria kelahiran Sragen 54 tahun silam itu bakal di nobatkan
sebagai salah satu dari lima wisudawan wisudawan terbaik uang diwisuda Polije,
hari ini.
Total
terdapat487 mahasiswa yang diwisuda pada 27 Januari 2018 ini.
“
Alhamdulillah. Tujuan saya kuliah di
usia tua ini untuk memperkaya imu agar mengajar bias lebih berkulitas. Juga
untuk menjadi teladan bagi anak cucu saya,” tutur bapak empat anak dan satu cucu ini.
Senen
yang sehari harinya bekerja sebagai guru di SMKN 5 Jember ini, lulus dari
Program Magister Terapan (S2) Program studi Manajemen Agribisnis. Dari masa
studi normal dua tahun, senen berhasil menyelesaikannya dalam waktu satu tahun
10 bulan 10 hari dengan IPK 3,64.
Diangkatnya,
Senen merupakan mahasiswa tertua. Namun, usia bukan menjadi penghalang bagi
dirinya untuk bias menyelesaikan studi magister dengan hasil maksimal. “ Dosen
pembimbing saya, Dr Ir Ridwan Iskandar dan dr Tanti Kustiari Msi, selalu memotifasi saya, bahwa
kalau mahasiswanya rajin, maka dosennya akan lebih rajin dan semangat lagi.
Jadi, saya tidak boleh kalah dengan yang lebih muda,” tutur pria yang juga
pengajar karate ini.
Selain
dosen, keluarga khususnya sang istri, Dra Sugiyem, juga menjadi penambah
semangatnya. “ Istri saya dulunya guru sukwan, tapi karena lama tidak diangkat,
lebih memilih berjualan soto di SMKN 5, tempat saya mengajar,” jelas Senen.
Semula,
Senen mengaku tertarik kuliah S2 di Polije karena ada tawaran beasiswa untuk
guru SMK di idang pertanian. Tetapi, ternyata ityu terbentur regulasi. Beasiswa
hanya diberikan untuk calon mahasiswa
yang berusia 35 tahun kebawah. “tapi saya memilih tetap lanjut S2, karena
menuntut ilmu itu tidak akan rugi. Kalaupun tidak menjadi dosen, saya bias
langsung mengaplikasikan ilmu saya dengan berwirausaha,” tutur pria yang
menyelesaikan D3 dan S1 nya masing-masing di IPB dan Unej ini.
Meski
focus kuliah S2, senen tetap tidak melupakan kewajiban utamanya sebagai guru
yang sudah ia tekuni sejak tahun 1985 itu. “ Harus pinar bagi waktu saja. Saya
sesuaikan jam mengajar dengan jam kuliah. Belajarnya tidak tentu, disela-sela
waktu saja,” tutur Senen yang lulus dengan menulis tesis seputar strategi
pemasaran nata de coco ini.
Cerita
tak kalah menarik jugadisampaikan Okta Sintiya, wisudawan terbaik polije
lainnya. Mahasiswa Jurusan Produksi Pertanian, Prodi D3 Produksi Tanaman Holti
Komentar
Posting Komentar