Tetap Berupaya meski Kami Sering
Ditolak Keluarga Korban
Niatan
baik tak selalu diterima dengan baik. Hal itulah yang di terima oleh pekerja
social dalam mendampingi anak yang mengalami
kekerasan seksual . Mereka kerap di usir, namun tetap semangat
mendampingi korban.
BAGUS
SUPRIADI , Jember
Kota
Tak mudah menjadi pekerja sosial yang
meiliki tugas mendampingi anak yang mengalami korban seksual. Sebab, tak semua
keluarganya menerima kehadiran pendamping.
Mereka takut aib keluarganya akan tersebar.
Selain itu, tak hanya anak yang mengalami
trauma, keluarga juga merasa terpukul. Apalagi, pelaku kekerasan seksual tersebut
adalah keluarga terdekat, mulai dari bapak tiri hingga paman. “Ada juga yang bapak
kandung yang melakukan ,” kata Yulia Ayu Indriani salah satu aktifis
pendampingan korban kekerasan seksual.
Sejak 2015 lalu, dia bersama Fajar Tejo
Laksono dan Agus Wahyu Permana bekerja sebagai pekerja sosial dibidang ini.
Mereka melakukan pendampingan pada anak yang mengalami kekerasan seksual. “Awalnya
kami membantu panti asuhan,” katanya.
Kemudian, beralih menjadi pendamping korban
kekerasan terhadap anak. Selain itu, juga menangani Taman Anak Sejahtera (TAS)
yang menangani balita serta Rumah Perlindungan Sosial Anak (RPSA). Sekarang,
tiga orang tersebut getol terjun kelokasi anak yang mengalami kekerasan.
Anak yang mendapatkan pendampingan memang
tidak terlalu banyak. Sebab, selain banyak yang tidak melaporkan, juga tidak
mau di dampingi. Tahun 2015 lalu, terdapat 13 anak, tahun 2016 10 anak. Dan
tahun 2017 terdapat 14 anak. “Jumlahnya
bisa jadi lebih banyak dari itu yang mengalami kekerasan,” tuturnya.
Berbagai pengalaman dia dapatkan saat
melakukan pendampingan. Misal, saat hendak melakukan pendampingan dengan cara
mendekati keluarganya korban. Yulia sempat di usir karena dikira seseorang
wartawan yang hendak menberitakan sang anak .
Namun Yulia tak menyerah, ia kembali lagi
dan memberikan pejelasan bahwa tugasnya untuk mendapingi anak. Menyembuhkan
trauma yang dialami agar bisa kembali meraih masa depannya . Sebab, tak mudah
bagi anak untuk kembali kelingkung sosial, terutama sekolah.
Setelah berupaya mencoba memberikan
pemahaman sang anak . beralih kepada orang tua agar terus meberika n semangat
pada anak. “Kami mengatakan kepada
mereka, jangan melihat masa lalu tapi lihatlah masa depan anak yang yang masih panjang,” jelasnya.
Meskipun tak mudah upaya itu harus dilakukan agar masa depan sanga
anak tidak pupus sebab, tak jarang juga orang tua korban tidak mau
menerima pendamping. Kemudian, sang anak putus sekolah dan masa
depannya tak terang .
Mereka yang pernah jadi korban kekerasan
seksual, kata alumnus Fisip Universitas Jember tersebut, berpotensi menjadi
pelaku kekerasan seksual juga ketika sudah besar. Sedangkan perempuan, mereka bisa
berpotensi menjadi pekerja seksual.
Untuk itulah, para pendamping anak tersebut
tak lelah untuk memberikan semangat baru agar tetap semangat melanjutakan hidup
dengan optimistis. ”kadang anak tidak mau kembali kesekolah yang sama, sehingga
harus dipindah ketempat lain,” ucapnya.
Di Jember, ada sekitar 30 Lembaga Kesejahteraan
Sosial Anak (LKSA) dan 23 sedang mengikuti akreditasi. Namun diantara jumlah
tersebut ada tiga yang menampung anak korban kekerasan.” Ketika korban ingin
pindah keskolah, bisa dipindah ke LKSA,” tambah Agus, pendampig anak yang lain.
Di lembaga tersebut, semua kebutuhan anak
di tanggung; mulai dari biaya pendidikan , makan dan lainnya sehingga masa depan
korban bisa menjadi lebih baik. ”Pelaku kekerasan itu orang terdekat mulai dari
bapak kandung ,bapak tiri, dan paman sendiri,” tegasnya.
Sehingga keluarga, mulai dari anak dan ibu
kerap tidak melaporkan karena beberapa alasan. Pertama ada ancaman, kedua
kondisi ekonomi yang miskin, ketiga tidak tahu cara melaporkan karena
pendidikan yang rendah .” Pelaku harus di hukum seberat mungkin , karena kalau
tidak bisa mengulangi perbuatannya,” pungkas Agus. (C1/hdi)
Sumber ; Jawa Pos (Radar Jember)
Edisi ; Minggu 21 Januari 2018
Di
Salin Oleh; HK

Komentar
Posting Komentar