Sejak awal kemunculannya kisaran dua
dekade silam, organisasi pecinta alam (OPA) menjadi salah satukelompok relawan
kebencanaan yang paling militan di Jember. Tidak ada honor bagi mereka. Misi
kemanusiaan mereka mampu menerjang segala bentuk pamrih di tengah kondisi
darurat.
BAGI yang jarang
bersentuhan dengan relawan kebencanaan, SAR dari OPA bisa jadi bukan
siapa-siapa. Tapi, dikalangan relawan, SAR dari OPA ini di kenal sangat banyak
kiprahnya. Mereka nyaris tampa absen di tengah medan ketika bencana terjadi.
Lantas siapakah sebenarnya OPA? SAR OPA merupakan
relawan SAR yang berasal dari unsur
mahasiswa pecinta alam (mahapala). Anggotanya berusia kisaran 20-24 tahun,
sebagaimana usia mahasiswa umumnya. Dalam lingkaran mapala di Jember, fungsi
OPA semacam badan koordinasi yang menautkan unit kegiatan mahasiswa (UKM) pecinta alam dari
beragam perguruan tinggi di Jember.
Selain itu, wadah tersebut juga memerankan fungsi
koordinatif terhadap personel mapala se Jember untuk terjun ke medan saat
terjadi bencana. Pola ini menjadikan relawan kebencaan dari unsur OPA cenderung
bisa menyumbangkan personel yang relatif banyak disaat terjun ke lapangan, bisa
sampai puluhan.
Perkumpulan ini resmi terbentuk kisaran tahun 2000.
Belakangan, basisnya terpusat di sekretariat Akasia, UKM Pecinta Alam yan
dimilki Fakultas Hukum Universitas
Jember.
Lantaran statusnya yang lintas perguruan tinggi, OPA
bukanlah menjadi bagian dari salah satu perguruan tinggi. Tak ayal, wadah ini
tidak memilki sumber pendanaan yang bisa di pastikan .
Urusan perdanaan inilah yang menjadi salah satu hambatan
pemenuhan saat melakukan giat. Mereka pasti menggalang sumabangan dari satu UKM
PA satu ke yang lainnya, yang ternaung dalam OPA. “ Kami selalu patungan. Saat
dana dan logistik sudah habis, sementara giat SAR belum selesai , maka patungan
lagi,” ujar Denny Sukma Putranto. Koordinator SAR OPA.
Menurutnya, keputusan untuk terjun kelokasi begitu terjadi
bencana lebih utama ketimabng ribuan soal logistik. Pemenuhan makanan dan hal
remeh-remeh lainnya kerap diurus sembari jalan.
Dia berani mengkalaim jika personel OPA sering datang
kelokasi jauh lebih cepat ketimbang organ kebencanann lainnya. Prinsipnya,
sesegera mungkin medekati titik bencana saat informasi di terima. Hal ini, kata
dia, sulit dilakukan oleh satuan kebencanaan yang masih terlampau birokratis. “
Yang lain biasanya masih nunggu pagi, nunggu absen dulu di kantor. Sementara
kami lebih memilih untuk langsung berangkat,” kata mahasiswa semester tua
Fakultas Hukum (FH) Unej yang karib di sapa Joker itu.
Namun demikian,dalam faktanya OPA bukan Cuma bermodalkan
militansi dan jiwa muda yang penuh kenekatan. Kendati kerap patungan untuk
mendapatkan kebutuhan logistik, nyatanya mereka menjadi satu-satunya unsur
organ penanganan musibah tenggelam yang, kalau tidak salah, dilengkapi dengan
perahu rafting. Ada lima perahu rafting OPA yang dihimpun dari sejumlah UKM PA
dibawahnya. “ Basarnas infonya sebelumnya punya satu, tapi sekarang rusak. Jadi
punya kami ini yang jadi andalan,” terang Denny.
Di luar semua itu, perjuangan tampa pamrih yang kerap di
tampilkan anak-anak OPA terkadang juga mendapat cibiran. Barangkali karena
masih berstatus mahasiswa, giar kemanusiaan yang mereka tapaki itu kurang memenuhi unsur profesionalitas. “
Pernah kami dikatai, jangan banyak-banyak personelnya, ini bukan latihan,” kata
dia menirukan salah seorang petugas
kebencanaan.
Padahal, menurut Denny, para relawan OPA merupakan komponen
kebencanaan yang telah melewati screening yang berat. Mereka baru di tahbiskan
pantang menjadi relawan SAR oleh UKM PA di kampusnya masing-masing setelahlulus
ujian diklat SAR yang berat. (c1/ras)
Sumber : Jawa Pos
(Radar Jember)
Edisi :Senin 29
Januari 2018

Komentar
Posting Komentar